25 Tahun di Tambang, Epen Kini Sukses Jadi Petani Modern di Kutai Timur
KUTAI TIMUR, Inibalikpapan.com – Pagi di kebun itu berjalan tanpa suara mesin tambang. Tidak ada deru kendaraan berat, tidak ada bunyi alat produksi, dan tidak ada tuntutan mengejar waktu seperti yang selama 25 tahun pernah dijalani Rustam Efendi.
Pria yang akrab disapa Epen itu kini justru sibuk mengurus tanaman di lahan garapannya di Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Sabtu, 26 September 2026, Epen bersama istrinya, Titik Nurwahyuni, berada di tengah hamparan kebun yang terlihat sederhana. Di sana tumbuh berbagai tanaman sayuran, mulai cabai, kacang panjang, tomat, timun, terong hingga buncis.
Sebagian tanaman masih dalam masa pertumbuhan. Sebagian lainnya sudah siap dipanen.
Sekilas, kebun tersebut tak jauh berbeda dengan lahan pertanian rakyat pada umumnya. Namun, cara Epen mengelolanya telah berubah.
Dari yang sebelumnya mengandalkan tenaga dan cara-cara manual, kini pengairan menggunakan sistem irigasi tetes dan sprinkler. Pengelolaan tanah juga dilakukan berdasarkan kondisi lahan, sementara pola tanam dibuat bergilir agar kebun tetap produktif.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Epen sebelumnya menghabiskan sekitar 25 tahun bekerja di sektor pertambangan. Ia pernah bekerja di Balikpapan, Melak hingga Sangatta.
Pada 2021, ia memilih meninggalkan pekerjaan tambang dan kembali menekuni dunia yang sejak kecil dikenalnya: pertanian.
“Saya awalnya jadi petani mulai berhenti kerja 2021. Sebelumnya saya kerja di tambang, Balikpapan, Melak, Sangatta. Saya sekitar 25 tahun kerja di tambang, baru berkebun,” kata Epen.
Keputusan tersebut bukan karena penghasilan sebagai pekerja tambang kecil. Justru sebaliknya. Namun, Epen mengaku menemukan kebebasan yang berbeda ketika mengelola kebun sendiri.
Di pertanian, ia merasa memiliki kendali atas waktunya.
“Kalau kita di kerjaan kita deadline waktu. Kita diperintah sama waktu. Kalau bertani kita yang perintah waktu. Mau kita tidur, mau apa kan enak. Kalau kita di perusahaan kan terikat waktu,” ujarnya.
Bagi Epen, menjadi petani juga seperti meneruskan jalan orangtuanya yang lebih dulu menggeluti pertanian.
“Saya terjun jadi petani karena orangtua petani. Jadi melanjutkan. Alhamdulillah sukses di petani,” katanya.
Dari Menyiram dengan Jeriken hingga Irigasi Tetes
Namun, menjadi petani tidak serta-merta membuat semuanya mudah.
Lahan yang digarap Epen dan kelompoknya menghadapi persoalan tanah. Kondisi tanah di wilayah Kutim yang didominasi jenis Podsolik Merah Kuning (PMK) membuat pengelolaan lahan membutuhkan perhatian lebih, terutama terkait tingkat keasaman dan ketersediaan unsur hara.
Pada masa awal bertani, persoalan tersebut turut menggerus pendapatan.
Penyiraman masih dilakukan secara manual. Ketika kemarau datang, air menjadi kebutuhan utama dan tenaga yang dikeluarkan semakin besar.
“Saya sama yang lain kalau menyiram harus bawa jeriken,” kata Epen.
Titik bahkan masih mengingat bagaimana hasil kebun mereka ketika pengelolaan masih konvensional.
“Dikumpulkan hasil produksi selama satu minggu, misalkan dapatnya dalam satu minggu Rp1,2 juta, itu habis untuk pupuk saja lebih separuhnya. Dapatnya 20 persen saja,” ujarnya.
Situasi tersebut perlahan berubah setelah kelompok tani mendapat pendampingan dari PT Pertamina Gas (Pertagas) melalui program Marta Tani Mandiri.
Petani tidak hanya mendapat bantuan peralatan, tetapi juga pendampingan untuk memahami teknologi pertanian dan memperbaiki kondisi tanah.
Sistem pengairan yang sebelumnya mengandalkan tenaga manual mulai digantikan dengan irigasi tetes dan sprinkler.
“Dibantu Pertagas, kita sebelumnya petani konvensional, nyiramnya masih pakai manual. Sekarang dibantu Pertagas kita ada irigasi tetes, pakai sprinkler, dan ngerti teknologi,” kata Epen.
Menurutnya, perubahan tersebut berdampak langsung terhadap produksi.
“Berkat Pertagas naik sampai 80 persen,” ujarnya.
Titik pun menyebut kondisi yang sebelumnya membuat sebagian besar pendapatan habis untuk biaya produksi kini berbalik.
“Kalau sekarang pengeluarannya cuma 20 persen. Sekarang terbalik berkat dukungan Pertagas,” katanya.
Tanah Menjadi Fondasi
Konsultan pertanian Dwi Dalih Mulyanto mengatakan modernisasi pertanian tidak sebatas menghadirkan peralatan baru.
Menurutnya, persoalan paling mendasar justru berada di tanah.
Hasil pemeriksaan terhadap lahan menunjukkan sebagian area masih memiliki unsur hara rendah dan tingkat keasaman atau pH yang belum ideal. Kondisi itu membuat tanaman tidak mampu menyerap nutrisi secara optimal meski pupuk yang diberikan memiliki kualitas baik.
“Fondasi tanahnya harus kuat. Kalau fondasinya tidak kuat, kita bangun sampai 10 tingkat pun bisa roboh. Begitu juga dengan pertanian. Tanaman bisa tumbuh, tetapi belum tentu menghasilkan,” kata Dwi.
Perbaikan tanah dilakukan secara bertahap dan rutin. Perubahan kualitas tanah mulai terlihat dalam satu hingga dua bulan, sementara stabilisasi pH membutuhkan waktu sekitar enam bulan.
Pupuk kandang pun tidak langsung diberikan ke lahan. Pupuk terlebih dahulu diproses untuk mengurangi potensi penyakit sekaligus mendorong perkembangan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah.
Setelah kondisi tanah mulai membaik, pola budidaya juga diubah.
Petani tidak menanam satu komoditas secara terus-menerus. Tanaman dibuat bergilir, seperti tomat dan cabai, sehingga lahan tetap memiliki siklus produksi.
Dari pola tersebut, hasil mulai terlihat.
Dwi menyebut sekitar 3.000 tanaman tomat dapat menghasilkan sekitar Rp35 juta dalam satu kali panen dengan masa produksi sekitar dua bulan.
Nilai tersebut belum termasuk hasil dari komoditas lain yang ditanam di lahan yang sama.
“Pertanian modern” akhirnya bukan hanya soal penggunaan teknologi. Pengelolaan air, tanah, energi, biaya produksi hingga pemasaran harus berjalan bersamaan.

Belum Banyak Petani Beralih
Kisah Epen dan kelompoknya menjadi contoh bahwa pertanian modern mulai tumbuh di Desa Martadinata. Namun, perubahan tersebut belum menyebar luas.
Sekretaris Desa Martadinata, Jumriati, mengatakan dari sekitar 22–23 kelompok tani yang ada, baru sekitar tiga hingga lima kelompok yang mulai menerapkan pola pertanian modern.
Sebagian besar lainnya masih menggunakan metode konvensional.
“Masih sedikit. Salah satu yang paling berkembang ada di RT Cintu Batu. Kalau di tempat lain masih konvensional,” kata Jumriati.
Menurutnya, kelompok tani binaan Pertagas menjadi salah satu contoh yang dapat dipelajari petani lainnya.
Pendampingan di kawasan Sidrap, yang berada di wilayah Martadinata dan berbatasan dengan Kota Bontang, telah berlangsung sejak 2021. Sementara pengembangan kegiatan serupa di kawasan Martadinata lainnya berlangsung sekitar 2022–2023.
Namun, memperluas pola tersebut tidak bisa dilakukan secara instan.
Pemerintah desa harus mempertimbangkan waktu, tenaga dan kebutuhan pendampingan. Apalagi, pendampingan intensif membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.
Selama ini, dukungan pemerintah desa lebih banyak berupa bantuan pupuk dan bibit. Sementara pendampingan teknis membutuhkan pola yang lebih panjang.
Ada pula tantangan lain, yakni menjaga agar program tidak menimbulkan kecemburuan antarkelompok tani.
“Kalau dibina seperti ini kan butuh waktu. Namanya membina, kami juga takut ada kecemburuan sosial,” ujar Jumriati.
Karena itu, pemerintah desa mendorong kelompok tani lebih proaktif mencari akses pendampingan, termasuk melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau CSR.
Bukan Sekadar Bantuan
Pejabat Sementara Manager Pertagas Operation Kalimantan Area, Lina Irianti, mengatakan Marta Tani Mandiri dirancang bukan sekadar sebagai program pemberian bantuan.
Program yang dijalankan sejak 2022 itu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan, memperkenalkan teknologi pertanian, memperkuat kapasitas produksi hingga membuka akses pasar.
“Konsep kami bukan hanya memberikan bantuan kemudian ditinggalkan, tetapi bagaimana menciptakan kemandirian. Harapannya masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak bergantung kepada orang lain dan tidak buta teknologi,” kata Lina.
Pertagas terlebih dahulu memetakan persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk kondisi tanah yang menjadi salah satu kendala utama di Desa Martadinata.
Sebab, peningkatan produksi tanpa kepastian pasar juga tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani.
“Percuma kita memproduksi panen banyak kalau tidak bisa dijual. Jadi peran Pertagas mencoba sampai ke arah sana. Bukan hanya bagaimana petani bisa menanam dan panen, tetapi bagaimana hasilnya benar-benar menghasilkan dan terus berputar,” jelas Lina.
Pendampingan kelompok tani umumnya dilakukan selama dua hingga tiga tahun. Namun, berakhirnya masa pendampingan tidak berarti hubungan langsung terputus.
Kelompok tani yang telah mandiri tetap dapat berkonsultasi apabila membutuhkan dukungan.
Bagi Epen dan Titik, perubahan tersebut bukan sekadar soal teknologi baru di kebun.
Ada perubahan cara berpikir: bahwa bertani tidak harus identik dengan pekerjaan tradisional dengan hasil yang terbatas.
Di lahan yang dulu dikelola dengan cara manual, kini air dapat diatur, tanah diperbaiki, tanaman disusun bergilir dan hasil panen dihitung sebagai bagian dari sebuah usaha.
Tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan panen.
Lebih jauh, bagaimana pengalaman satu kelompok tani bisa menular ke kelompok lainnya.
Pemerintah Desa Martadinata berharap keberhasilan kelompok binaan Pertagas menjadi tempat belajar bagi petani lain.
“Kami ingin sebenarnya ini disebarluaskan ke petani-petani lainnya, jadi tidak cuma di sini. Harapannya kegiatan seperti ini membantu perekonomian,” ujar Jumriati.
Sementara bagi Epen, pilihan meninggalkan dunia tambang dan kembali ke kebun menjadi keputusan yang kini ia jalani dengan penuh keyakinan.
Dari kebun lima hektare yang dikelola bersama kelompok tani Buntu Batu, ia tidak hanya mengejar hasil panen.
Ia sedang membuktikan bahwa ketika pengetahuan, teknologi dan pengelolaan usaha berjalan bersama, bertani juga bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.
Penulis : Amir Syarifuddin
BACA JUGA
