8 Penyandang Tunarungu di Balikpapan Dibekali Keterampilan Barista untuk Dunia Kerja

Pelatihan barista bagi penyandang disabilitas tunarungu yang digelar Laznas Nurul Hayat Cabang Balikpapan bersama BDI Pertamina Hulu Mahakam dan Meraci Cafe, Kamis (1/10/2026).
Pelatihan barista bagi penyandang disabilitas tunarungu yang digelar Laznas Nurul Hayat Cabang Balikpapan bersama BDI Pertamina Hulu Mahakam dan Meraci Cafe, Kamis (1/10/2026). Foto: Inibalikpapan/Samsul

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Dunia usaha di Kota Balikpapan mulai membuka ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk masuk ke dunia kerja. Salah satunya datang dari sektor kafe yang kini mulai melihat kemampuan penyandang tunarungu sebagai bagian dari kebutuhan tenaga kerja.

Gambaran itu terlihat dalam pelatihan barista bagi penyandang disabilitas tunarungu yang digelar Laznas Nurul Hayat Cabang Balikpapan bersama BDI Pertamina Hulu Mahakam dan Meraci Cafe, Kamis (1/10/2026).

Sebanyak delapan peserta tunarungu mengikuti pelatihan tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan keterampilan dasar sebagai barista sekaligus pengalaman mengenal pekerjaan yang selama ini cukup dekat dengan aktivitas bisnis kafe.

Kepala Cabang Laznas Nurul Hayat Balikpapan, Machfuddin Al-Adib, S.Pd., M.E., mengatakan pelatihan ini sengaja diarahkan pada keterampilan yang memiliki peluang untuk diterapkan langsung di dunia kerja.

“Pesertanya adalah teman-teman tunarungu di Kota Balikpapan. Kita batasi delapan orang supaya proses pelatihannya lebih fokus dan mereka bisa mendapatkan pendampingan secara maksimal,” kata Machfuddin.

Menurutnya, peluang kerja bagi peserta tidak harus berhenti pada profesi barista. Kemampuan masing-masing peserta nantinya bisa menjadi pertimbangan untuk menempati posisi lain di lingkungan usaha, termasuk kasir maupun pekerjaan pendukung lainnya.

Dari Keterampilan ke Kesempatan Kerja

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dapat disesuaikan dengan kemampuan, bukan semata-mata melihat keterbatasan yang dimiliki.

Machfuddin menyebut sejumlah kafe di Balikpapan telah menyatakan kesiapan membuka kesempatan kerja bagi peserta pelatihan barista.

“Kita tahu di Kota Balikpapan kafe-kafe cukup banyak. Bahkan pernah viral Balikpapan disebut sebagai ‘Kota Kafe’. Ini menjadi peluang bagi teman-teman untuk berjuang mencari pekerjaan,” ujarnya.

Bagi peserta, keterampilan yang diperoleh dari pelatihan menjadi modal untuk melangkah lebih jauh. Sebab, tujuan akhirnya bukan hanya mampu membuat dan menyajikan minuman, tetapi juga memiliki bekal untuk masuk ke lingkungan kerja yang nyata.

Machfuddin berharap dukungan terhadap penyandang disabilitas tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Kolaborasi antara lembaga sosial dan dunia usaha dinilai penting agar keterampilan yang sudah diberikan benar-benar berujung pada kesempatan kerja.

Ia juga berharap semakin banyak pelaku usaha yang memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka.

“Kesempatan” dalam konteks ini bukan hanya soal membuka lowongan. Dunia usaha juga memiliki peran dalam membangun lingkungan kerja yang memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang sesuai kemampuannya.

Pelatihan yang digelar pada Kamis lalu itu pun menjadi salah satu langkah kecil untuk mendorong ekosistem kerja yang lebih inklusif di Balikpapan. Dari balik mesin espresso dan aktivitas kedai kopi, ada harapan agar penyandang tunarungu tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari tenaga kerja di kota ini.***

Penulis: Samsul
Editor: Rizki

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses