Banyak Warga Sebatik Bekerja di Malaysia, Perkebunan Sawit Penopang Ekonomi Perbatasan

Asdan, warga RT 2 Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah (foto : Inibalikpapan/Amir Syarifuddin)
Asdan, warga RT 2 Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah (foto : Inibalikpapan/Amir Syarifuddin)

SEBATIK, Inibalikpapan.com  — Kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, berlangsung dengan dinamika yang khas. Hubungan keluarga dan aktivitas ekonomi warga kerap terhubung dengan Malaysia, tetapi untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), sebagian warga tetap mengandalkan produk dari Indonesia.

Asdan, warga RT 2 Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, mengatakan kehidupan masyarakat di perbatasan pada dasarnya berjalan seperti masyarakat pada umumnya. Namun, kedekatan geografis dengan Malaysia membuat hubungan keluarga dan pekerjaan lintas negara menjadi hal yang biasa.

“Kalau di perbatasan kehidupan sama saja. Karena kebanyakan warga kita ada di Malaysia,” kata Asdan.

Ia mencontohkan, ada warga yang tinggal di Sebatik tetapi memiliki anggota keluarga yang bekerja di Malaysia. “Anaknya bekerja di sana (Malaysia), orangtuanya tinggal di sini (Sebatik),” ujarnya.

Kondisi tersebut juga tergambar dari pengalaman pribadinya. Asdan mengaku lahir di Malaysia karena orangtuanya dahulu merantau ke negeri jiran tersebut. Namun, ia kemudian tumbuh dan menjalani pendidikan di Sebatik hingga menyelesaikan SMA.

“Saya lahirnya di Malaysia, saya aslinya orang Sulawesi. Karena orangtua merantau puluhan tahun, jadi saya besarnya di sini, Sebatik ini. Sekolah di sini sampai lulus SMA,” tuturnya.

Sawit Jadi Penopang Ekonomi Warga

Dari sisi ekonomi, Asdan menyebut perkebunan sawit menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat di wilayahnya.

“Kalau di sini mayoritas kerjanya kebun sawit pribadi, ada yang ojek,” katanya.

Aktivitas warga tersebut membuat ketersediaan BBM menjadi kebutuhan penting, terutama untuk mobilitas sehari-hari.

Namun, menurut Asdan, warga di kawasan perbatasan tidak kesulitan mendapatkan BBM Indonesia.

“Warga di perbatasan kami masih tetap menggunakan BBM dari Indonesia, dan harga BBM Indonesia juga sangat murah,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut BBM Indonesia relatif mudah ditemukan di wilayah tersebut. “BBM Indonesia bisa ditemukan di mana pun ada,” katanya.

BBM Malaysia Ada, Tapi Tak Mudah Masuk

Meski berada hanya beberapa kilometer dari wilayah Malaysia, keberadaan BBM Malaysia tidak otomatis membuat produk tersebut mudah digunakan seluruh warga Sebatik.

Asdan mengatakan BBM Malaysia memang ada di kawasan perbatasan, tetapi distribusinya tidak selalu mudah karena terdapat pemeriksaan terhadap barang yang masuk.

“BBM Malaysia ada, tapi tidak semua mudah masuk ke sini. Di perbatasan itu punya pemeriksaan juga, apakah mereka diizinkan masuk ke sini atau bagaimana,” jelasnya.

Karena itu, bagi Asdan, BBM Indonesia tetap menjadi pilihan utama.

“Kalau saya sih hanya bisa menggunakan BBM dari Indonesia,” tegasnya.

Perbatasan Dekat Malaysia, BBM Tetap Indonesia

Keterangan Asdan memperlihatkan kondisi unik kehidupan masyarakat Sebatik. Secara sosial dan ekonomi, hubungan dengan Malaysia sangat dekat. Bahkan, sebagian keluarga memiliki anggota yang bekerja atau pernah tinggal di Malaysia.

Namun, dalam pemenuhan kebutuhan BBM sehari-hari, ia mengatakan warga tetap mengandalkan pasokan dari Indonesia.

Faktor harga, ketersediaan, serta pemeriksaan terhadap barang dari Malaysia menjadi bagian dari pertimbangan masyarakat dalam memilih BBM.

Di tengah karakter Sebatik sebagai wilayah perbatasan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kedekatan geografis dengan Malaysia tidak serta-merta membuat kebutuhan dasar warga bergantung pada produk dari negara tetangga.

Penulis : Amir Syarifuddin

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses