Basarnas Berharap Pengangkatan Bangkai KM Virgo Dipercepat, Permudah Pencarian Korban

KM Virgo terbalik di Laut Jawa di masa-masa awal kecelakaan kapal itu pada Minggu (13/9). (Foto: Istimewa/Basarnas)

BANJARMASIN, inibalikpapan.com — Basarnas mendorong proses salvage atau pengangkatan dan pembalikan kapal motor penumpang (KMP) Virgo Transport 8 dipercepat. Kondisi kapal yang masih miring dinilai membatasi ruang pencarian tim penyelam dan meningkatkan risiko keselamatan saat mengevakuasi korban.

Kepala Basarnas Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan tim penyelam gabungan tidak dapat memasuki seluruh bagian kapal dalam kondisi saat ini. Sejumlah area berisiko bagi penyelam karena posisi kapal yang tidak stabil.

“Salvage ini yang kita dorong dipercepat. Karena penyelam itu tidak bisa semua ruangan dimasuki, karena kondisi kapalnya masih miring,” kata Putu dalam rilis operasi SAR hari ke-13, Jumat (25/9/2026) malam.

Menurut Putu, pembalikan kapal akan membuat proses pencarian korban lebih mudah. Setelah kapal diangkat dan dikembalikan ke posisi semula, tim SAR dapat menyisir ruangan-ruangan yang sebelumnya sulit atau tidak memungkinkan dimasuki.

“Begitu kapalnya diangkat, dibalikkan lagi seperti semula, kita lebih gampang mengevakuasinya. Seperti kapal biasa, kita bisa mencari di semua ruangan,” ujarnya.

Dorongan itu disampaikan setelah tim SAR gabungan pada hari ke-13 kembali menemukan korban. Sebanyak 11 jenazah berhasil dievakuasi, terdiri dari lima jenazah yang ditemukan di dalam badan kapal oleh tim penyelam gabungan Basarnas, TNI Angkatan Laut dan POSI, serta enam jenazah yang ditemukan tim SAR gabungan di wilayah Kalimantan Tengah.

Putu mengatakan posisi kapal yang miring menjadi salah satu kendala utama dalam pencarian korban. Tim penyelam harus menentukan area yang aman sebelum melakukan penyelaman karena perubahan posisi atau kondisi bagian kapal tertentu dapat membahayakan keselamatan mereka.

“Begitu kita pecahkan kaca di area-area yang memang memiliki stabilitas yang rendah, itu pasti akan berpengaruh. Dan ini membahayakan penyelam-penyelam kita,” katanya.

Karena itu, seluruh kegiatan penyelaman dilakukan berdasarkan assessment keselamatan. Tim hanya memasuki bagian kapal yang dinilai memungkinkan untuk diselami.

“Kegiatan penyelaman, kegiatan unsur udara, unsur laut maupun unsur darat, semuanya harus safety,” ujar Putu.

Selain kondisi kapal, operasi pencarian pada hari ke-13 juga menghadapi kendala cuaca dan arus bawah laut. Gelombang di lokasi dilaporkan berkisar 1,75 hingga 2,5 meter, sementara arus bawah permukaan cukup kencang dan berubah sewaktu-waktu.

Kondisi tersebut membuat jadwal empat sortie penyelaman yang telah direncanakan harus menyesuaikan situasi di bawah air. Penyelaman hanya dilakukan pada waktu ketika kondisi arus dinilai memungkinkan.

Putu menegaskan Basarnas tidak menjadi pihak yang melaksanakan operasi salvage. Namun, menurut dia, pengangkatan dan pembalikan kapal diperlukan untuk mendukung proses pencarian korban.

“Bukan kami yang melaksanakan, bukan kami yang bertanggung jawab, tapi kami mendorong untuk itu. Bila perlu dipercepat, kita malah senang dipercepat,” katanya.

Ia menyebut pihak KSOP, Distrik Navigasi, perusahaan, dan pihak asuransi menjadi bagian yang berkaitan dengan proses pengangkatan kapal tersebut.

Basarnas masih akan melakukan evaluasi untuk menentukan kelanjutan operasi SAR hari ke-14. Evaluasi melibatkan unsur penyelam, TNI Angkatan Laut, Basarnas, KSOP, Pelindo, Distrik Navigasi, kepolisian, serta unsur udara.

Sementara itu, Putu mengatakan kondisi jenazah yang ditemukan di dalam kapal mulai mengalami perubahan akibat proses pembusukan. Tim penyelam tetap berupaya mengevakuasi korban dalam kondisi seutuh mungkin.

“Memang ada perubahan-perubahan, pasti. Rusak itu pasti. Tapi secara anatomis tubuh itu masih utuh,” ujarnya.***

Penulis: Donny M.
Editor: Donny

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses