BGN Sisir Wilayah 3T, 480 Dapur MBG Diaktifkan di 16 Provinsi Mulai 2 Oktober 2026
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai memperluas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke wilayah yang selama ini paling sulit dijangkau. Sebanyak 480 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 16 provinsi dan 116 kabupaten/kota wilayah Timur Indonesia akan diaktifkan mulai 2 Oktober 2026.
Ekspansi ini secara khusus menyasar wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), daerah dengan prevalensi stunting tinggi hingga sangat tinggi, serta sekolah yang hingga kini belum mendapatkan layanan MBG karena berada jauh dari pusat pemerintahan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan aktivasi diprioritaskan bagi dapur SPPG yang telah memenuhi persyaratan dan memiliki kesiapan untuk beroperasi.
“Pada Jumat, 2 Oktober ini, kami akan melaksanakan aktivasi dapur SPPG yang siap beroperasi di wilayah 3T, wilayah yang stuntingnya tinggi dan wilayah yang stuntingnya tinggi sekali. Kita mulai dari wilayah Timur Indonesia,” ujarnya, dikutip dari laman BGN.
480 SPPG Disebar, Papua hingga Nusa Tenggara
Sebanyak 480 SPPG yang diaktifkan terdiri atas 211 SPPG mitra mandiri dan 269 SPPG terpencil.
Aktivasi mencakup 16 provinsi, yakni Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.
Aktivasi dilakukan serentak di seluruh provinsi tersebut.
Mas Dar akan berada di Maluku untuk memantau langsung proses aktivasi. Sementara Wakil Kepala BGN, para deputi dan pejabat eselon II ditugaskan ke sejumlah provinsi lain untuk memastikan tahapan berjalan sesuai ketentuan.
Namun, aktivasi tidak berarti 480 dapur tersebut langsung membagikan MBG pada hari yang sama.
Masih ada sejumlah tahapan yang harus diselesaikan sebelum layanan diberikan kepada penerima manfaat.
Aktivasi 2 Oktober, Operasional Diperkirakan 3–4 Minggu Kemudian
Setelah diaktifkan, setiap SPPG masih harus menjalani tahapan persiapan, termasuk pelatihan bagi penjamah makanan serta penyiapan dan penetapan jumlah penerima manfaat.
Jumlah penerima manfaat juga akan dinaikkan secara bertahap sesuai kapasitas dan kesiapan masing-masing dapur.
“Selanjutnya, setelah kita aktivasi, akan ada tahapan-tahapan, termasuk tahapan pelatihan. Penjamah makanan harus dilatih, termasuk juga nanti penerima manfaatnya dimulai dari sekian jumlah, jumlahnya makin ditambah, dan seterusnya,” kata dia.
BGN memperkirakan SPPG yang diaktifkan mulai beroperasi sekitar tiga hingga empat minggu setelah aktivasi.
Waktu tersebut tetap bergantung pada kesiapan masing-masing dapur dan pemenuhan seluruh tahapan yang diperlukan.
“Kami prediksi tahapan-tahapan ini akan langsung dimulai pada tanggal 2 itu, kemudian dapur-dapur tersebut siap beroperasi pada tiga sampai empat minggu setelah dilakukan aktivasi pada tanggal 2,” ujarnya.
BGN Kejar Sekolah yang Belum Tersentuh MBG
Perluasan ke wilayah Timur Indonesia menjadi bagian dari strategi BGN untuk mengejar ketimpangan akses MBG.
Wilayah 3T, daerah dengan stunting tinggi dan sangat tinggi menjadi prioritas. Begitu pula wilayah yang banyak menyampaikan aduan karena sekolah-sekolahnya belum memperoleh layanan MBG.
Persoalan jarak dari pusat pemerintahan menjadi salah satu perhatian BGN dalam menentukan wilayah sasaran.
“Kami prioritaskan di wilayah 3T, wilayah stunting tinggi, wilayah stunting tinggi sekali, dan wilayah-wilayah lain yang memang banyak sekali kami mendapatkan aduan. Sekolah-sekolah itu masih banyak yang belum mendapatkan pelayanan MBG, tetapi khususnya yang berada di daerah-daerah yang jauh dari Ibu Kota. Ini kemudian akan kami sisir terus,” kata Mas Dar.
Ekspansi tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan dapur, kapasitas layanan dan jumlah penerima manfaat.
Dengan aktivasi 480 SPPG ini, BGN mulai mengarahkan ekspansi MBG bukan hanya ke daerah dengan akses mudah, tetapi juga ke wilayah yang menghadapi tantangan geografis sekaligus memiliki kebutuhan intervensi gizi yang tinggi.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
