Distribusi BBM ke Krayan Bergantung Satu Pesawat, Sekali Hujan Pengiriman Bisa Molor 3 Hari

Pertamina Fuel Terminal Tarakan
Pertamina Fuel Terminal Tarakan

TARAKAN, Inibalikpapan.com – Distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), menjadi salah satu jalur distribusi Pertamina paling menantang di Indonesia. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu kini hanya mengandalkan satu pesawat Air Tractor untuk mengangkut BBM dari Tarakan.

Sales Branch Manager Kalimantan Timur–Utara (Kaltimut) V Fuel Pertamina Patra Niaga Kalimantan, Nabilla Inanbarika Hartyana, mengatakan distribusi BBM ke Krayan memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan wilayah lainnya.

“Krayan ini menjadi lokasi yang pengirimannya paling challenging. Bahkan bisa saya bilang paling challenging di satu Indonesia ini karena pengirimannya melalui udara,” kata Nabilla, kepada inibalikpapan, Jumat 2 Oktober 2026

Pola distribusi dimulai dari Field Terminal Tarakan. BBM kemudian dimuat ke pesawat Air Tractor dengan kapasitas sekitar 4 ton dalam sekali penerbangan.

Dari Tarakan, pesawat membawa BBM menuju Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan, Krayan. Setelah tiba di Long Bawan, BBM kembali didistribusikan melalui jalur darat menuju sejumlah SPBU di wilayah Krayan.

Saat ini terdapat empat SPBU yang beroperasi di Krayan, yakni di Krayan Induk, Krayan Barat, Krayan Timur dan Krayan Selatan.

Distribusi dari Long Bawan menuju SPBU menjadi persoalan tersendiri. Khususnya untuk Krayan Selatan, kondisi jalan dapat membuat perjalanan yang normalnya hanya sekitar 12 jam berubah menjadi tiga hari tiga malam ketika hujan turun.

“Kalau tidak hujan itu bisa 12 jam sampai di Krayan Selatan. Namun apabila kondisi hujan, itu bisa sedikit menghambat karena jalannya berlumpur, sehingga bisa tiga hari tiga malam dikirim dari Krayan Induk menuju Krayan Selatan,” jelasnya.

Sementara itu, perjalanan udara dari Tarakan menuju Long Bawan relatif lebih cepat. Pesawat membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam untuk mencapai Bandara Yuvai Semaring.

Untuk Krayan Timur, distribusi darat saat ini relatif lebih mudah setelah adanya perbaikan jalan. Perjalanan dari Krayan Induk menuju wilayah tersebut membutuhkan sekitar dua hingga tiga jam.

Kini Tinggal Satu Pesawat

Tantangan distribusi semakin besar setelah terjadinya kecelakaan pesawat yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut BBM ke Krayan.

Nabilla mengungkapkan, sampai saat ini belum ada pesawat pengganti. Keterbatasan pesawat Air Tractor di Indonesia membuat armada yang sebelumnya berjumlah dua unit kini tinggal satu pesawat yang melayani pengiriman ke Krayan.

“Akibat pesawat jatuh itu, masih belum ada penggantinya karena pesawat Air Tractor di Indonesia sendiri terbatas. Semula yang dua beroperasi menuju Krayan, sekarang hanya satu saja,” ungkapnya.

Untuk menjaga pasokan tetap berjalan, satu pesawat yang tersisa dimaksimalkan hingga tiga kali penerbangan dalam sehari.

Dengan pola tersebut, penerbangan BBM ke Krayan dapat mencapai sekitar 18 kali dalam sepekan. Operasional dilakukan sekitar enam hari dalam satu minggu.

Satu kali pengiriman membawa sekitar empat ton BBM. Frekuensi pengiriman kemudian disesuaikan dengan kuota masing-masing SPBU dan kebutuhan di lapangan.

BBM Satu Harga di Wilayah Perbatasan

Empat SPBU di Krayan saat ini seluruhnya menjalankan program BBM Satu Harga. Produk yang disalurkan mencakup dua jenis BBM subsidi, yakni Biosolar dan Pertalite.

Kondisi wilayah perbatasan juga membuat kebutuhan BBM di Krayan turut dipengaruhi situasi pasokan di Malaysia.

Nabilla mengatakan terdapat produk komoditas yang masuk ke wilayah Krayan dari Malaysia. Namun, kondisi tersebut juga membuat perubahan ketersediaan BBM di Malaysia dapat berdampak terhadap kebutuhan BBM Pertamina di wilayah perbatasan.

“Memang tidak memungkiri ada produk komoditas juga yang masuk, sama seperti di Sebatik,” katanya.

Menurut dia, ketika pasokan BBM di Malaysia mengalami keterbatasan, kebutuhan terhadap BBM Pertamina di wilayah seperti Krayan dan Sebatik juga dapat ikut meningkat.

Kondisi tersebut membuat distribusi BBM ke Krayan tidak sekadar menghadapi persoalan geografis. Pertamina juga harus menjaga pasokan di tengah keterbatasan armada udara, medan darat yang sulit, serta dinamika kebutuhan masyarakat di kawasan perbatasan.

Dengan satu pesawat Air Tractor yang saat ini dioperasikan, Pertamina berupaya memaksimalkan penerbangan sembari menunggu ketersediaan armada berikutnya dari transporter, Pelita Logistik.

Penulis : Amir Syarifuddin

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses