Hotspot Karhutla Nasional Melonjak 55 Persen, Kalsel Tertinggi 40 Titik

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum mereda
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum mereda (foto : Kemenhut)

JAKARTA, Inibalikpapan.com — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat. Data pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional melonjak 118 titik dalam sehari.

Dalam siaran pers, Kementerian Kehutanan, hingga Sabtu (26/9/2026) pukul 21.15 WIB, terdeteksi 331 hotspot high confidence, naik sekitar 55 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 213 titik.

Lonjakan terutama terlihat di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Di sisi lain, hotspot di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat mengalami penurunan, tetapi pemerintah tetap meminta kewaspadaan dipertahankan melalui patroli dan verifikasi lapangan.

Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, jumlah hotspot high confidence mencapai 111 titik dengan rincian:

  • Kalimantan Selatan: 40 titik, dari sebelumnya 6 titik;
  • Sumatera Selatan: 38 titik, dari sebelumnya 17 titik;
  • Kalimantan Tengah: 30 titik, turun dari 57 titik;
  • Kalimantan Barat: 2 titik, turun dari 14 titik;
  • Jambi: 1 titik, sama dengan sehari sebelumnya;
  • Riau: nihil hotspot high confidence.

Data tersebut menempatkan Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan sebagai wilayah yang mengalami kenaikan paling menonjol dalam pemantauan terbaru.

Kementerian Kehutanan menyatakan peningkatan hotspot harian menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan, sekaligus memperkuat verifikasi dan respons di lapangan.

Sementara penurunan hotspot di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat perlu dipertahankan melalui patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan, hingga pendinginan.

61 Armada Udara Disiagakan

Mengantisipasi perkembangan karhutla, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung operasi penanganan kebakaran.

Armada tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.

Sebanyak 55 unit armada ditempatkan untuk mendukung enam provinsi prioritas karhutla. Sementara enam unit water bombing lainnya disiapkan untuk mendukung penanganan di wilayah terdampak lainnya.

Operasi udara dilakukan bersamaan dengan penanganan di darat yang melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha dan berbagai pihak lainnya.

Tim di lapangan melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up dan pendinginan.

Perhatian khusus diberikan terhadap kebakaran di lahan gambut. Bara di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan sehingga berpotensi kembali menyala ketika kondisi lahan mengering dan angin menguat.

331 Hotspot Bukan Berarti 331 Kebakaran

Kementerian Kehutanan mengingatkan agar data hotspot tidak langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.

Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20.

Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu titik hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui pemeriksaan lapangan.

Artinya, lonjakan menjadi 331 hotspot menunjukkan peningkatan indikasi panas yang perlu diwaspadai, tetapi belum dapat digunakan sebagai angka pasti jumlah kebakaran maupun luas area terbakar.

Asap Masih Ganggu Jarak Pandang

Kenaikan dan penurunan hotspot juga tidak selalu langsung berbanding lurus dengan kondisi kualitas udara.

Pantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan pada lokasi tertentu masuk kategori berbahaya.

Asap juga masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah berdasarkan pantauan meteorologi penerbangan BMKG.

Pada pengamatan dini hari, Palangka Raya tercatat berasap dengan jarak pandang sekitar 0,6 kilometer, Banjarmasin sekitar 1,7 kilometer, Pontianak sekitar 2 kilometer dan Jambi sekitar 4,8 kilometer.

Sementara itu, Palembang tercatat berawan dengan jarak pandang sekitar 7 kilometer. Di Pekanbaru, jarak pandang sekitar 3 kilometer dengan kondisi hujan ringan.

Kondisi tersebut menunjukkan asap dapat bertahan atau berpindah mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin. Karena itu, pemantauan hotspot, kualitas udara, cuaca dan jarak pandang dilakukan secara bersamaan.

Masyarakat Diminta Waspadai Dampak Asap

Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti perkembangan kualitas udara dan arahan pemerintah daerah.

Jika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Penggunaan masker juga dianjurkan apabila masyarakat harus beraktivitas di luar rumah.

Perhatian lebih perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

Karhutla juga mengancam satwa liar dan habitatnya. Kebakaran dapat menghilangkan habitat dan sumber pakan serta mendorong satwa keluar dari kawasan hutan.

Jika menemukan satwa liar yang keluar dari habitat atau terdampak kebakaran, masyarakat diminta tidak melakukan penanganan sendiri. Masyarakat dapat menjaga jarak, mencatat lokasi apabila memungkinkan, kemudian melaporkannya kepada Balai KSDA atau petugas kehutanan terdekat.

Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Informasi mengenai asap, titik api atau aktivitas pembakaran juga diminta segera dilaporkan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses