Hotspot Karhutla Nasional Turun 605 Titik, Kalsel Jadi 18 Titik
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Jumlah titik panas atau hotspot karhutla (kebakaran hutan dan lahan) dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional menurun signifikan. Namun, pemerintah belum mengendurkan kewaspadaan karena sejumlah wilayah masih menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (3/10/2026) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 666 hotspot high confidence di seluruh Indonesia berdasarkan pantauan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Jumlah tersebut turun 605 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.271 hotspot.
Meski secara nasional menunjukkan tren penurunan, kondisi di setiap daerah berbeda. Sumatera Selatan justru mencatat lonjakan hotspot paling tinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Pada Jumat (2/10), Sumatera Selatan tercatat memiliki 83 hotspot. Sehari kemudian jumlahnya melonjak menjadi 254 titik.
Hotspot Sumsel Melonjak, Kalteng dan Kalbar Menurun
Di enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, total hotspot high confidence mencapai 429 titik, turun dari 726 titik sehari sebelumnya.
- Sumatera Selatan: 254 titik, naik dari 83 titik.
- Kalimantan Tengah: 96 titik, turun dari 355 titik.
- Riau: 32 titik, dari sebelumnya nihil.
- Kalimantan Barat: 26 titik, turun dari 246 titik.
- Kalimantan Selatan: 18 titik, turun dari 42 titik.
- Jambi: 3 titik, dari sebelumnya nihil.
Data tersebut menunjukkan bahwa penurunan hotspot nasional belum merata. Penurunan paling signifikan terlihat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, sedangkan Sumatera Selatan justru menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas.
Karena itu, Kementerian Kehutanan tetap mempertahankan kesiapsiagaan dan operasi pengendalian karhutla.
Hotspot Bukan Berarti Jumlah Kebakaran
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.
Satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.
Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap membutuhkan groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan sekaligus menentukan langkah penanganan.
61 Armada Udara Disiagakan
Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya.
Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk operasi water bombing.
Perhatian khusus diberikan terhadap kebakaran di lahan gambut. Api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah meski kobaran di permukaan sudah tidak terlihat.
Karena itu, proses pemadaman tidak cukup hanya dengan menghilangkan api di permukaan. Pembasahan dan pendinginan harus dilakukan hingga lokasi benar-benar dinyatakan aman.
Kualitas Udara Masih Jadi Ancaman
Selain memantau hotspot, pemerintah juga terus memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5.
Secara umum, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Beberapa lokasi bahkan berada dalam kategori berbahaya.
Kondisi tersebut dapat berubah dengan cepat mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer.
Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Jika kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.
Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian lebih.
Satwa Terdampak Karhutla Juga Dipantau
Karhutla tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga habitat dan pergerakan satwa liar.
Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan terhadap satwa yang terdampak kebakaran.
Penanganan dapat berupa evakuasi dan penyelamatan, pemeriksaan medis, perawatan, rehabilitasi, translokasi hingga pelepasliaran kembali apabila kondisi satwa dan habitatnya telah memungkinkan.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan evakuasi secara mandiri.
Masyarakat disarankan menjaga jarak, menghindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, mencatat lokasi dan kondisi satwa jika memungkinkan, kemudian melaporkannya kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Pemerintah Ingatkan Larangan Membakar Lahan
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Turunnya hotspot nasional bukan berarti ancaman karhutla telah berakhir. Kondisi dapat berubah cepat mengikuti cuaca, kondisi lahan dan aktivitas manusia di lapangan.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan agar petugas dapat melakukan respons sedini mungkin.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
