Inflasi September PPU Tembus 4,18 Persen, Balikpapan 3,93 Persen, El Niño Tekan Harga Pangan di Kaltim

Festival Cabai Nusantara 2026 digelar pada 26–27 September di Nusantara Park, KIPP Nusantara.
Festival Cabai Nusantara 2026 digelar pada 26–27 September di Nusantara Park, KIPP Nusantara. (foto : Humas Otorita IKN)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Tekanan harga pangan mulai menjadi perhatian di Kalimantan Timur. Inflasi tahunan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada September 2026 tercatat mencapai 4,18 persen (yoy), sekaligus berada di atas batas sasaran inflasi nasional 2026.

Kondisi berbeda terjadi di Kota Balikpapan yang mencatat inflasi tahunan sebesar 3,93 persen (yoy). Meski masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,28 persen, angka Balikpapan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Secara bulanan, Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,08 persen (mtm) pada September 2026. Sementara PPU mencatat inflasi jauh lebih tinggi, yakni 0,56 persen (mtm).

Kenaikan harga di kedua daerah terutama bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Gangguan pasokan dari daerah sentra produksi, terutama Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, menjadi salah satu faktor utama.

Kondisi tersebut diperparah dampak El Niño yang memengaruhi tingkat produksi sejumlah komoditas pangan di daerah sentra produksi. Di saat pasokan menurun, permintaan masyarakat masih relatif kuat sehingga memberikan tekanan terhadap harga.

Cabai, Tomat hingga Jagung Jadi Pemicu Inflasi

Di Balikpapan, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil inflasi sebesar 0,15 persen (mtm) pada September 2026.

Lima komoditas yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi adalah cabai rawit, kangkung, tomat, tas sekolah, dan jagung manis.

Harga cabai rawit, tomat, dan jagung manis meningkat akibat berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Kondisi cuaca kemarau memengaruhi produksi komoditas tersebut, sementara permintaan masih tetap kuat.

Sementara kenaikan harga kangkung dipengaruhi berkurangnya pasokan dari petani lokal di Balikpapan dan sekitarnya akibat kondisi cuaca kemarau.

Tas sekolah juga masuk dalam daftar komoditas penyumbang inflasi. Kenaikan harga disebut berkaitan dengan kebijakan produsen yang mengompensasi peningkatan biaya produksi melalui harga jual, di tengah meningkatnya permintaan pada tahun ajaran baru.

PPU Hadapi Tekanan Harga Pangan Lebih Besar

Tekanan inflasi di PPU bahkan lebih kuat. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil sebesar 0,48 persen (mtm).

Lima komoditas utama penyumbang inflasi PPU adalah cabai rawit, tomat, jagung manis, kacang panjang, dan jeruk.

Cabai rawit, tomat, dan jagung manis mengalami kenaikan harga karena pasokan dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menurun akibat kondisi kemarau yang memengaruhi produksi.

Kacang panjang juga mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan dari petani lokal di PPU dan wilayah sekitarnya.

Sementara harga jeruk terdorong naik akibat keterbatasan pasokan, dampak kemarau panjang terhadap produksi, kenaikan biaya logistik, serta berakhirnya masa panen raya.

Ada Komoditas yang Justru Menahan Inflasi

Di tengah kenaikan harga pangan, sejumlah komoditas justru memberikan tekanan deflasi.

Di Balikpapan, kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga menjadi penyumbang deflasi terdalam dengan andil 0,06 persen (mtm).

Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain ikan layang, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, dan udang basah.

Penurunan harga ikan layang didukung meningkatnya hasil tangkapan nelayan di perairan PPU dan sekitarnya. Sementara tarif angkutan udara turun seiring penurunan harga avtur di Bandara Sepinggan Balikpapan pada 1 Agustus 2026.

Harga bahan bakar rumah tangga juga turun seiring meningkatnya frekuensi operasi pasar hingga tingkat kelurahan, kecukupan stok, serta kelancaran distribusi pasokan.

Di PPU, deflasi terdalam berasal dari ikan tongkol, ikan layang, udang basah, ikan kembung, dan telur ayam ras. Penurunan harga komoditas perikanan terutama ditopang melimpahnya hasil tangkapan nelayan sehingga stok di pasar meningkat.

El Niño Jadi Risiko Inflasi Berikutnya

Tekanan inflasi di Kaltim diperkirakan masih menghadapi sejumlah risiko. El Niño, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi mengganggu produksi serta pasokan pangan.

Keterbatasan air dapat mengganggu aktivitas budidaya dan menekan produksi komoditas pangan. Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Kaltim masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah, sementara produktivitas pangan lokal dinilai masih terbatas.

Tekanan terhadap kelompok volatile food juga menjadi salah satu risiko utama inflasi daerah. Karena itu, penguatan pasokan, distribusi, dan intervensi stabilisasi harga dinilai diperlukan untuk menjaga harga pangan.

Risiko juga datang dari kebutuhan energi. Ketersediaan dan distribusi BBM serta LPG perlu dijaga untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan permintaan dan gangguan stok.

Selain itu, perluasan operasional SPPG pada semester II 2026 berpotensi meningkatkan permintaan sejumlah komoditas pangan sehingga ketersediaan stok dan pasokan perlu dipastikan.

TPID Perkuat Operasi Pasar

Untuk menekan risiko kenaikan harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan dan PPU terus menjalankan program stabilisasi melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah, dan Operasi Pasar.

Sepanjang Januari-September 2026, TPID Balikpapan telah menggelar 104 kali Gerakan Pangan Murah, termasuk 10 kali sepanjang September. Sementara TPID PPU telah melaksanakan 32 kali GPM, Pasar Murah, dan Operasi Pasar, termasuk lima kegiatan pada September.

Pengendalian pasokan juga dilakukan melalui kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi. Langkah tersebut menjadi penting di tengah semakin kuatnya dampak El Niño terhadap produksi pangan di sejumlah daerah pemasok.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan bersama pemerintah daerah juga memperkuat pengamanan sumber air dan produksi pangan melalui optimalisasi pompa dan embung serta perbaikan irigasi.

Sementara itu, penanganan karhutla diperkuat melalui dukungan sarana pemadaman dan perlengkapan kepada BPBD PPU dan Paser.

Dengan tekanan harga pangan yang masih dibayangi El Niño dan kekeringan, penguatan pasokan serta distribusi menjadi kunci untuk menjaga inflasi Kaltim tetap terkendali hingga akhir 2026.

Sumber : Rilis Bank Indonesia Balikpapan

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses