Kaltim Targetkan 1.038 Desa dan Kelurahan Siaga TB, Baru 74 yang Dicanangkan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memperkuat upaya penanggulangan AIDS, Tuberkulosis (TB), dan Malaria (ATM) melalui peluncuran Desa dan Kelurahan Siaga TB
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memperkuat upaya penanggulangan AIDS, Tuberkulosis (TB), dan Malaria (ATM) melalui peluncuran Desa dan Kelurahan Siaga TB (foto : Pemprov)

SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai memperkuat perang melawan Tuberkulosis (TB) dari tingkat paling bawah. Sebanyak 74 desa dan kelurahan di tujuh kabupaten/kota resmi dicanangkan sebagai Desa dan Kelurahan Siaga TB.

Program ini menjadi bagian dari strategi Kaltim mempercepat penemuan kasus TB, deteksi dini, investigasi kontak, pendampingan pasien hingga memastikan pengobatan tuntas.

Peluncuran Desa dan Kelurahan Siaga TB dilakukan bersamaan dengan Workshop Petunjuk Teknis Integrasi AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (ATM) serta Sosialisasi Kebijakan Nasional Tingkat Provinsi Kaltim di Ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (11/8/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin menegaskan, TB tidak bisa ditangani hanya dengan mengandalkan fasilitas kesehatan. Penanganan harus diperkuat dari lingkungan tempat masyarakat tinggal.

“Penyakit TB atau TBC ini menjadi penting untuk ditangani secara serius. Kita harus menemukan dan mendampingi pasien sampai sembuh total,” ujarnya, dikutip dari laman Pemprov.

Target Kaltim: 1.038 Desa dan Kelurahan Siaga TB

Peluncuran 74 Desa/Kelurahan Siaga TB menjadi langkah awal. Pemerintah Provinsi Kaltim memasang target jauh lebih besar, yakni memperluas program ke 1.038 desa dan kelurahan yang tersebar di seluruh wilayah Kaltim.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menegaskan, target eliminasi TB tidak akan tercapai jika penanganannya hanya dilakukan pemerintah dan tenaga kesehatan.

“Keberhasilan eliminasi TB sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat dari tingkat paling bawah sampai provinsi,” katanya.

Karena itu, desa dan kelurahan akan menjadi salah satu ujung tombak dalam menemukan warga yang diduga terinfeksi TB sekaligus memastikan pasien menjalani pengobatan sesuai ketentuan.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena persoalan TB tidak hanya berkaitan dengan penyakit menular, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi bagi keluarga pasien.

TB Berkaitan dengan Gizi dan Stunting

Dinkes Kaltim menilai TB perlu ditangani lebih serius karena dampaknya dapat berkaitan dengan persoalan gizi dan stunting, terutama pada anak.

Pasien TB yang tidak segera ditemukan dan mendapatkan pengobatan berisiko mengalami kondisi kesehatan yang semakin buruk. Di sisi lain, lingkungan sekitar pasien juga berpotensi menjadi titik penularan apabila tidak dilakukan investigasi kontak.

Karena itu, program Desa/Kelurahan Siaga TB tidak hanya diarahkan untuk menemukan pasien, tetapi juga melakukan pendampingan hingga pasien menyelesaikan pengobatan.

Menemukan kasus saja tidak cukup. Pasien harus dipastikan berobat sampai sembuh dan rantai penularan di lingkungan sekitarnya diputus.

Kader Desa Jadi Ujung Tombak

Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai unsur di tingkat desa dan kelurahan.

Kader kesehatan, pemerintah desa, TP PKK, tokoh masyarakat dan unsur lokal lainnya akan didorong menjadi penggerak edukasi serta deteksi dini TB.

Mereka diharapkan mampu membantu menemukan masyarakat yang memiliki gejala, mendorong pemeriksaan, melakukan pendampingan pasien, sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga dan lingkungan.

Pendekatan berbasis masyarakat tersebut juga diarahkan untuk mengurangi stigma terhadap penderita TB.

Stigma menjadi salah satu persoalan yang dapat membuat pasien maupun keluarga enggan terbuka atau menjalani pemeriksaan. Karena itu, edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi eliminasi TB.

Skrining TB Diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis

Upaya penemuan kasus juga akan diperluas melalui integrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Integrasi tersebut diharapkan memperluas cakupan skrining sehingga masyarakat yang memiliki risiko atau gejala TB dapat ditemukan lebih awal.

Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan dan langkah pencegahan penularan dapat dilakukan.

Strategi ini menjadi penting karena eliminasi TB membutuhkan penemuan kasus secara aktif, bukan hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah memburuk.

Kolaborasi Diperkuat

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara TP PKK Kaltim dengan sejumlah organisasi yang bergerak di bidang kesehatan.

Kerja sama tersebut melibatkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kaltim, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kaltim, dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kaltim.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan memperkuat upaya penanggulangan penyakit sekaligus memperluas jangkauan edukasi dan pendampingan masyarakat.

Dengan baru 74 dari target 1.038 desa dan kelurahan, pekerjaan Kaltim untuk membangun sistem kewaspadaan TB masih panjang.

Namun, pemerintah menargetkan setiap desa dan kelurahan nantinya memiliki peran dalam menemukan kasus, mendampingi pasien dan mencegah penularan.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses