Karhutla Kalimantan Melonjak, Hotspot Kalsel 15 Titik, Kalbar 39, dan Kalteng 166

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum mereda
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum mereda (foto : Kemenhut)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan kembali menghadapi tantangan. Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat lonjakan hotspot atau titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, dari 61 menjadi 166 titik dalam sehari.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat hingga Jumat (18/9/2026) pukul 21.05 WIB terdapat 546 hotspot high confidence secara nasional.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 475 titik.

Kalteng kini menjadi wilayah dengan hotspot high confidence terbanyak di antara enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla.

Hotspot Kalteng Naik Lebih dari Dua Kali Lipat

Perkembangan hotspot high confidence di enam provinsi prioritas menunjukkan kondisi yang berbeda-beda.

  • Kalimantan Tengah: 166 titik, naik dari 61;
  • Sumatera Selatan: 100 titik, turun dari 184;
  • Kalimantan Barat: 39 titik, naik dari 30;
  • Kalimantan Selatan: 12 titik, naik dari 5;
  • Jambi: 9 titik, turun dari 15; dan
  • Riau: 4 titik, setelah sehari sebelumnya nihil.

Lonjakan di Kalteng menjadi perhatian karena terjadi ketika secara nasional jumlah hotspot justru meningkat.

Sebaliknya, Sumatera Selatan menunjukkan perkembangan positif dengan penurunan hotspot high confidence dari 184 menjadi 100 titik. Jambi juga turun dari 15 menjadi 9 titik.

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan kemudian memperkuat patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan hingga pendinginan di wilayah yang membutuhkan respons segera.

Hotspot Bukan Berarti Luas Kebakaran

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.

Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.

Karena itu, setiap indikasi yang muncul dari pemantauan satelit tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan kondisi aktual di lapangan.

Operasi pengendalian melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.

Penanganan dilakukan melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pembasahan, hingga pendinginan.

55 Armada Udara Dikerahkan

Dukungan operasi dari udara juga terus diperkuat. Sebanyak 55 unit armada udara dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Armada tersebut mencakup helikopter patroli, pesawat CASA untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta helikopter water bombing.

Pengerahan armada disesuaikan dengan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, potensi awan, jarak pandang, serta aspek keselamatan penerbangan.

OMC juga tetap dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi meteorologis untuk membantu proses pembasahan lahan, terutama pada ekosistem gambut.

BMKG memprakirakan pada 19 September masih terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah provinsi prioritas, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Pemerintah Fokuskan Operasi Berdasarkan Risiko

Penguatan koordinasi dilakukan lintas kementerian dan lembaga. Pada Jumat (18/9), Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mendampingi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago dalam Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan.

Rakor tersebut dihadiri Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, serta jajaran TNI, Polri, BNPB dan Manggala Agni.

Dalam rapat tersebut, perkembangan hotspot dilaporkan sekaligus ditekankan pentingnya menerjemahkan data pemantauan menjadi dasar penentuan lokasi pengecekan dan operasi di lapangan.

Menko Polkam meminta penanganan dilakukan secara terukur dengan memusatkan personel dan peralatan di wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi.

Pemetaan daerah rawan dan perkiraan lokasi kemunculan api diperlukan agar sumber daya dapat digunakan secara efektif. Pencegahan dan pengawasan terhadap aktivitas pembakaran juga terus diperkuat.

Perkembangan penanganan karhutla di Sumatera Selatan telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam laporan tersebut, Presiden menyampaikan apresiasi kepada unsur yang terlibat dalam pemadaman dan meminta penanganan terus dipercepat.

Asap Masih Jadi Ancaman

Selain hotspot, kondisi kualitas udara dan sebaran asap juga menjadi perhatian pemerintah.

Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara di Indonesia bervariasi. Sebagian besar wilayah berada dalam kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Pada beberapa lokasi, kualitas udara bahkan masuk kategori berbahaya.

Karena itu, jumlah hotspot tidak dapat menjadi satu-satunya indikator perkembangan karhutla.

Kondisi api di lapangan, konsentrasi partikulat, sebaran asap, arah angin, kelembapan, dan jarak pandang juga menjadi parameter yang terus dipantau.

Jarak Pandang di Enam Wilayah Prioritas

Pengamatan meteorologi penerbangan BMKG pada Kamis (18/9) siang mencatat kondisi jarak pandang di enam wilayah prioritas:

  • Pontianak: sekitar 5 kilometer, berasap;
  • Palangka Raya: 10 kilometer atau lebih, berawan;
  • Banjarmasin: 10 kilometer atau lebih, cerah berawan;
  • Jambi: sekitar 9 kilometer, berawan;
  • Pekanbaru: sekitar 8 kilometer, berawan;
  • Palembang: 10 kilometer atau lebih, berawan.

Meski jarak pandang di sebagian besar wilayah relatif lebih baik saat pengamatan, asap masih terdeteksi di Pontianak.

Kondisi tersebut dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti konsentrasi asap, arah angin, kelembapan, dan hujan.

Masyarakat di wilayah terdampak asap diminta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Jika kondisi udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.

Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis.

Pemerintah juga kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Pencegahan dinilai penting karena kondisi atmosfer masih relatif kering. Pada ekosistem gambut, kebakaran juga dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.

Masyarakat yang menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar terdampak diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Sumber : Kemenhut

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses