Kopi Kaltim Tembus Pasar Global, Delcoff Kantongi LoI Rp402 Juta di MIHAS 2026

UMKM mitra Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan yang membawa produk unggulan Kaltim ke MIHAS 2026 di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur, 23-26 September 2026.
UMKM mitra Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan yang membawa produk unggulan Kaltim ke MIHAS 2026 di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur, 23-26 September 2026. (foto : BI Balikpapan)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Produk UMKM Kalimantan Timur mulai mencuri perhatian pasar halal global. Bukan sekadar tampil di pameran internasional, kopi produksi PT Deli Koffie Indonesia (Delcoff) berhasil mengantongi tiga Letter of Intent (LoI) senilai US$23.000 atau sekitar Rp402 juta dari buyer Malaysia dan Arab Saudi dalam ajang Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) 2026.

Delcoff menjadi salah satu dari dua UMKM mitra Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan yang membawa produk unggulan Kaltim ke MIHAS 2026 di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur, 23-26 September 2026.

Capaian tersebut menjadi salah satu hasil konkret dari fasilitasi Bank Indonesia untuk memperluas akses pasar UMKM hingga ke pasar internasional.

Selama empat hari trade days MIHAS 2026, booth Delcoff dikunjungi sekitar 427 trade buyers dari berbagai negara. Mereka antara lain berasal dari Malaysia, Singapura, Afrika Selatan, Arab Saudi, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Bangladesh hingga Thailand.

Dari ratusan pengunjung tersebut, sedikitnya tujuh buyer menunjukkan minat serius. Mereka mulai menggali informasi lebih jauh mengenai harga, kapasitas produksi hingga opsi pengiriman.

Dari proses tersebut, tiga buyer kemudian menyatakan minat melalui LoI dengan nilai total US$23.000. Sejumlah calon buyer lainnya masih melanjutkan komunikasi dengan Delcoff setelah pameran berakhir.

Bukan Sekadar Kopi, Metode Hainan Jadi Pembeda

Minat buyer terhadap Delcoff tidak hanya datang dari cita rasa kopinya. Produk tersebut menawarkan diferensiasi melalui metode pengolahan yang mengadaptasi Kopi Hainan, dengan proses roasting tanpa penggunaan gula dan butter.

Metode itu menghasilkan karakter aroma dan cita rasa yang dinilai berbeda oleh para pengunjung dan buyer. Konsep tersebut juga diperkuat melalui tampilan booth yang mengangkat nuansa tradisional Kopi Hainan.

Bagi Delcoff, respons positif tersebut menjadi modal penting untuk melihat sejauh mana karakter kopi yang dikembangkan dapat diterima pasar internasional.

Namun, pengalaman di MIHAS juga menunjukkan bahwa buyer global tidak berhenti menilai rasa.

Mereka mulai menanyakan hal-hal yang lebih teknis, mulai harga, kapasitas produksi, kemasan, konsistensi pasokan, minimum order quantity (MOQ), hingga mekanisme pengiriman.

Peyek Kepiting Kaltim Ikut Dilirik Buyer Malaysia

Selain Delcoff, UMKM mitra KPwBI Balikpapan lainnya, Kampoeng Timoer, juga mendapat respons positif melalui produk andalannya, peyek kepiting. Produk tersebut mengikuti MIHAS 2026 melalui booth agregator Pasti Collective, bukan booth mandiri.

Selama dua hari showcasing, sedikitnya tujuh trade buyers menunjukkan minat serius terhadap produk tersebut. Peyek kepiting menjadi perhatian karena menawarkan jenis seafood snack yang relatif belum umum di pasar Malaysia.

Tekstur produk yang dinilai lembut turut mendapat respons positif. Begitu pula dengan penggunaan bahan yang tidak mengandung pengawet, penyedap rasa maupun pewarna sintetis.

Produk Kampoeng Timoer sebelumnya telah melalui proses kurasi dan supervisi Koperasi Pasti Collective, bagian dari tim Javara, sebelum dibawa ke pasar internasional.

Skema agregator tersebut sekaligus menunjukkan bahwa UMKM tidak harus selalu mengeluarkan biaya dan sumber daya untuk membuka booth sendiri ketika ingin menguji pasar global.

BI Dorong UMKM Naik Kelas, Bukan Sekadar Ikut Pameran

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan keikutsertaan UMKM dalam MIHAS menjadi bagian dari strategi memperkuat akses pasar melalui pendekatan hulu-hilir.

Menurutnya, proses membawa produk UMKM ke pasar ekspor tidak berhenti pada keikutsertaan dalam pameran internasional.

Interaksi langsung dengan buyer justru menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memahami kebutuhan pasar secara lebih konkret.

Buyer, kata dia, tidak hanya melihat rasa dan kualitas produk, tetapi juga mempertimbangkan harga, kapasitas produksi, kemasan, kesinambungan pasokan, MOQ dan mekanisme pengiriman.

Pasar global juga semakin memberikan perhatian terhadap aspek environment dan sustainability.

Karena itu, UMKM dituntut mampu menyiapkan informasi mengenai proses produksi, bahan baku hingga kemasan yang digunakan.

MIHAS Jadi Pintu Masuk Pasar Halal Global

MIHAS 2026 merupakan penyelenggaraan ke-22 dan menjadi salah satu platform perdagangan halal business-to-business (B2B) berskala internasional.

Mengusung tema “Shaping Trust, Driving Resilience”, MIHAS mempertemukan pelaku usaha dengan buyer dan calon mitra bisnis internasional dari berbagai sektor industri halal.

Secara nasional, terdapat 23 UMKM mitra Bank Indonesia yang mengikuti showcasing MIHAS 2026.

Sebanyak tujuh UMKM tampil melalui booth mandiri, sedangkan 16 UMKM lainnya bergabung dalam booth agregator Pasti Collective.

Bagi KPwBI Balikpapan, pengalaman Delcoff dan Kampoeng Timoer di MIHAS memperlihatkan bahwa jalan UMKM menuju ekspor tidak hanya melalui satu skema.

Booth mandiri dapat membuka ruang interaksi langsung dengan lebih banyak buyer, sementara agregator menjadi alternatif bagi UMKM untuk menguji respons pasar internasional dengan pendekatan kolaboratif.

Lebih jauh, hasil MIHAS menjadi gambaran bahwa tantangan UMKM setelah pameran justru semakin besar: mengubah ketertarikan buyer menjadi transaksi nyata.

LoI senilai Rp402 juta yang diperoleh Delcoff menjadi salah satu pintu awal. Selanjutnya, konsistensi kualitas, kapasitas produksi, harga yang kompetitif, kesiapan logistik dan kemampuan memenuhi standar pasar global akan menentukan apakah peluang tersebut benar-benar berubah menjadi ekspor.

Bagi UMKM Kaltim, panggung MIHAS 2026 akhirnya bukan hanya soal membawa produk keluar negeri. Yang lebih penting adalah membuktikan bahwa produk lokal mampu memenuhi tuntutan buyer global.

Sumber : Rilis BI Balikpapan

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses