Kuota Biosolar Nelayan Sebatik Dipangkas, dari 900 Jadi 500 Liter per Tiga Bulan, BBM Eceran Malaysia Mahal
SEBATIK, Inibalikpapan.com — Kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi salah satu persoalan yang dihadapi nelayan tangkap di Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Salah seorang nelayan tangkap, Juardi, mengaku jatah Biosolar berdasarkan surat rekomendasi yang diterimanya kini berkurang dari 900 liter menjadi 500 liter untuk periode tiga bulan.
Bagi Juardi, pengurangan kuota tersebut bukan sekadar angka di atas kertas. Pasokan BBM menentukan apakah ia bisa melaut atau harus menunda aktivitas menangkap ikan.
“Sekarang dikasih 500 (liter),” kata Juardi, warga RT 7 Muara Sungai, Desa Binalawan, Kecamatan Sebatik Barat, kepada inibalikpapan, Sabtu 3 Oktober 2026.
Sebelumnya, Juardi mendapat alokasi hingga 900 liter Biosolar untuk tiga bulan atau sekitar 300 liter per bulan. Namun, ketika kuota habis dan pasokan belum tersedia, ia mengaku terpaksa menghentikan sementara aktivitas melaut.
“Kadang mereka sudah bilang habis kuotamu, jadi kami menunggu lagi,” ujarnya.
Kuota BBM Menentukan Lama Nelayan di Laut
Juardi merupakan nelayan tangkap yang menggunakan kapal jenis dompeng dengan dua mesin masing-masing berkekuatan 30 PK.
Dalam kondisi normal, kebutuhan BBM untuk melaut cukup besar. Ketika masih menggunakan BBM dari Malaysia, ia memperkirakan konsumsi untuk dua mesin mencapai sekitar 60 liter dalam sehari.
Saat itu, biaya BBM sekitar Rp600 ribu per hari. Dengan biaya operasional tersebut, Juardi mengatakan hasil tangkapan harus mencapai setidaknya Rp1 juta sehari agar aktivitas melaut tetap memberikan keuntungan.
Kini, setelah menggunakan BBM Indonesia, ia mengatur penggunaan bahan bakar jauh lebih ketat.
“Saya membatasi tempo kami melaut,” katanya.
Pembatasan itu juga berdampak pada lama waktu berada di laut. Jika kondisi BBM tidak memungkinkan, perjalanan melaut dipangkas atau bahkan ditunda.
Juardi biasanya melaut menuju perairan sekitar Tanjung Haus ke arah Bulungan. Lama berada di laut bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan BBM.
“Kadang kami dua malam di laut. Kalau lihat belum datang solarnya, kami tinggal dulu,” ujarnya.
Harga BBM resmi di Pulau Sebatik, mengikuti kebijakan BBM Satu Harga dengan tarif Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter
BBM Malaysia Tak Lagi Jadi Pilihan
Sebelum beralih sepenuhnya ke BBM Indonesia, Juardi mengaku sempat menggunakan BBM dari Malaysia. Kondisi tersebut berlangsung hingga sekitar dua tahun lalu.
Namun, kenaikan harga BBM eceran Malaysia membuat pilihan tersebut semakin tidak menguntungkan bagi nelayan. Harga BBM Malaysia Rp23.000 perbotol dengan ukuran 800 mililiter.
Ia menyebut harga BBM Malaysia bahkan dapat mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per drum ketika pasokan langka.
“Enggak tahan kami belinya. Selama naiknya BBM di Malaysia, kami sudah stop, enggak sesuai dengan hasil pendapatan kami,” jelasnya.
Karena itu, ketika kuota Biosolar Indonesia habis, Juardi kini tidak lagi menjadikan BBM Malaysia sebagai alternatif.
Menurutnya, menggunakan BBM Malaysia dengan harga tinggi justru membuat biaya operasional membengkak dan hasil melaut tidak sebanding.
“Kalau kami ambil bahan Malaysia, kami rugi. Tekor jauh. Jadi kami menunggu dulu,” katanya.
Sambil menunggu pasokan BBM, ia memilih memperbaiki peralatan nelayan seperti pukat dan perlengkapan lainnya.
Pengurangan Kuota Berujung Pengurangan Aktivitas Melaut
Juardi mengatakan keterbatasan BBM membuat nelayan harus menghitung lebih cermat setiap perjalanan. Sebab, hasil tangkapan di laut tidak dapat dipastikan, sementara kebutuhan bahan bakar merupakan biaya yang harus dikeluarkan sejak awal.
“Yang penting cuaca masih bagus, kami tinggal. Apalagi belum ada didapat, hasil di laut itu kita belum tahu,” ujarnya.
Saat ini Juardi mengandalkan Biosolar melalui surat rekomendasi dari dinas untuk kebutuhan melaut.
Ia mengaku sudah menggunakan BBM Indonesia selama sekitar tiga tahun, setelah sebelumnya mengambil BBM di Nunukan.
Bagi nelayan seperti Juardi, persoalan BBM bukan hanya soal harga, tetapi juga kepastian pasokan dan kecukupan kuota. Ketika jatah berkurang, pilihan untuk melaut pun ikut terbatas.
Di tengah tingginya biaya operasional perikanan tangkap, ketersediaan BBM bersubsidi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah nelayan dapat tetap melaut secara rutin atau harus menunggu sampai pasokan tersedia kembali.
Penulis : Amir Syarifuddin
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
