Letak Balikpapan Strategis, Didukung Daerah Produsen

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia tentunya punya potensi lebih maju ke depannya.

“Bangsa kita bangsa agraris artinya tumbuhan dan tanaman dimanapun kita tanam akan tumbuh sepanjang kita mau, artinya kita manfaatkan kondisi tanah yang subur laut yang berlimpah,” ujar Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud saat diwawancarai media, Kamis (27/10/2022).

Rahmad menambahkan, artinya dengan strategisnya letak Kota Balikpapan sebagai daerah perdagangan posisi Kota Balikpapan akan diuntungkan, dengan beberapa daerah-daerah yang disekitar memilik hasil alam melimpah, seperti Sulawesi Barat (Sulbar) dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Artinya kalau masalah sembako tidak perlu khawatir, dengan kondisi sebagai daerah industri dan perdagangan ada hubungan antara produsen dan konsumen, Balikpapan sebagai konsumen tentu membutuhkan dukungan dari berbagai daerah produsen lainnya,” kata Rahmad.

Apalagi dengan adanya Ibu Kota Negara (IKN) sehingga diharapkan inflasi Kota Balikpapan memang sedang naik, penyebabnya ada beberapa hal kenaikan harga BBM.

“Masih tingginya inflasi kita imbas dari komuditas kita sebagaian besar hasil logistik didatangkan dari luar daerah, untuk itu diperlukan kerja sama yang intensif antara kami dengan daerah penghasil atau produsen,” jelasnya.

Apalagi tahun depan sudah mulai berjalan MoU dengan daerah lain sebagai penyumbang komoditas akan mengurangi inflasi.

“Termasuk mengurangi ongkos angkut, dan membagikan subsidi langsung yang akan kita bagikan kepada yang berhak menerimanya,” akunya.

Untuk diketahui, kepindahan lokasi Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur membuka peluang bagi Indonesia untuk kembali menggerakkan poros maritim.

Ketua Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI) Hendricus A. Simamarta mengatakan, wilayah IKN saat ini termasuk strategis berada di tiga jalur perairan internasional. Dia berpendapat kepindahan IKN bukan hanya memiliki maksud memindahkan pusat kota yang Jawa sentris tetapi juga memberikan makna untuk menjadi poros maritim dunia.

Baca juga ini :  Dua nama Ambil Formulir Pendaftaran Kursi Ketua Koni di Hari terakhir

“Ibu kota ini momentum awal [poros maritim]. Nggak ada yang salah dengan pemaknaan itu. Tapi kita lihat apakah perencanaan akan mengoptimalkan posisi strategis ini. Mengembangkan bisnis logistik nggak cuma potensi perairan laut, tetapi juga skala bisnis, pemain, dan investasinya,” ujarnya.

Wilayah IKN, terangnya, berada di jalur perdagangan Australia ke Asia Pasifik, Asia Timur hingga Pantai Timur Amerika Serikat. Kondisi tersebut, tekannya, bisa menjadi peluang bagi Indonesia semakin aktif di koridor ini. Mulai dari wilayah Bali, Nusa Penida, Makassar, Balikpapan, Samarinda, hingga menembus Filipina dan lainnya. Bahkan, kedalaman laut perairan ini juga sudah bisa mengakomodir kapal besar.

Belum lagi, di sekitar wilayah ini terdapat Pantai Barat Sulawesi dan Pantai Timur Kalimantan yang sedikit memiliki kawasan konservasi. Dengan demikian semestinya tidak ada persoalan agar Indonesia menjadi pemain aktif di kawasan tersebut.

Saat ini, tuturnya, memang kawasan perairan ini masih didominasi oleh kapal pengangkut minyak dan gas bumi, bulky kontainer, tetapi Indonesia juga harus mulai mengantisipasi tantangan tersebut ke depan. Terutama mengingat bahwa produksi minyak batu bara menurun sejalan dengan komitmen menurunkan emisi karbon.

“Itu menjadi tantangan apakah IKN bisa menjadi starter kit atau awal dimulainya perubahan pantai timur Kalimantan dan Pantai Barat Sulawesi,” ujarnya.

Dari catatan pelabuhan yang ada, dia menilai sudah ada data pelayaran, terutama Balikpapan yang dekat dengan kawasan Penajam. Kemudian di Samarinda yang dekat dengan Samboja. Artinya tipologi ini memang belum bisa dikategorikan global hub atau Global port tapi mulai dari regional hub dengan komoditas tertentu. Selanjutnya menjadi tugas para pelaku pelayaran untuk bisa ikut ambil bagian dalam rencana ini.

Baca juga ini :  Ketua Umum Persiba Keluhkan Pengusaha Lokal Belum Berkontribusi Musim Ini

Di sisi lain, berdasarkan data, pemerintah menargetkan logistik sektor darat membutuhkan belanja modal senilai Rp30 triliun dengan sekitar Rp20 triliun akan berasal dari Kerja sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU), sedangkan di sektor laut targetnya 50 persen di antaranya juga berasal dari KPBU sektor swasta.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.