Mayoritas Dihuni Pemain Baru, Mauro Jeronimo : Borneo FC Masih Terus Membangun Chemistry
SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Borneo FC Samarinda menghadapi tantangan ganda di awal BRI Super League 2026/27. Di satu sisi, Pesut Etam dituntut terus meraih kemenangan. Di sisi lain, pelatih Mauro Jeronimo masih harus menyatukan skuad yang dihuni banyak pemain baru.
Hingga pekan ketiga BRI Super League 2026/27, Borneo FC mengoleksi enam poin dari tiga pertandingan. Pesut Etam mencatat dua kemenangan dan satu kekalahan, yang menempatkan mereka di posisi keenam klasemen sementara.
Catatan tersebut menjadi modal positif bagi Borneo FC saat kompetisi memasuki jeda internasional. Namun, Mauro menilai performa tim masih berpotensi naik turun karena proses membangun chemistry antarpemain belum selesai.
Pelatih asal Portugal itu menyebut perubahan besar dalam komposisi skuad membuat proses adaptasi menjadi tantangan tersendiri.
“Berbicara tentang chemistry atau ikatan antar pemain dalam tim. Kami memiliki 28 pemain baru atau mungkin 27, saya sampai lupa hitungannya. Jadi, kami paham bahwa di awal musim ini performa tim akan mengalami pasang surut,” kata Mauro Jeronimo, dikutip dari laman I League.
Menurut Mauro, chemistry tidak bisa dibangun hanya dalam beberapa pertandingan. Para pemain membutuhkan waktu untuk saling mengenal, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Ia bahkan menggunakan analogi hubungan asmara untuk menggambarkan proses tersebut.
“Kami harus realistis, tetap membumi, dan terus bekerja keras. Membangun ikatan antar individu itu tidak terjadi dalam semalam. Ibaratnya seperti saat Anda menjalin hubungan asmara, Anda mengajak pasangan menonton bioskop, makan malam, dan sebagainya,” ujarnya.
Borneo FC Tak Bisa Hanya Mengandalkan Waktu
Bagi Mauro, pertandingan memang menjadi bagian penting dalam proses membangun tim. Namun, chemistry yang sesungguhnya terbentuk melalui rutinitas latihan dan interaksi setiap hari.
Para pemain harus memahami karakter rekan setim, termasuk cara bergerak, mengambil keputusan, hingga membaca situasi pertandingan.
“Tim sepak bola pun persis seperti itu. Para pemain berlatih setiap hari, mereka harus saling mengenal serta memahami kelemahan dan kelebihan masing-masing, dan semua itu butuh waktu,” jelasnya.
Mauro menegaskan proses tersebut tidak bisa dipaksakan atau dipercepat secara instan.
Sebab, dengan banyaknya pemain baru, dibutuhkan waktu untuk membangun pemahaman kolektif yang nantinya menjadi kekuatan Borneo FC sepanjang musim.
“Ini adalah proses yang tidak bisa dipercepat secara instan karena memang mustahil,” tegasnya.
Namun, persoalannya Borneo FC tidak memiliki banyak ruang untuk menunggu.
Enam poin dari tiga pertandingan memang menjadi modal awal, tetapi kompetisi tetap berjalan. Setiap laga menghadirkan tuntutan yang sama: kemenangan.
Karena itu, Mauro ingin proses membangun chemistry berjalan beriringan dengan pencapaian hasil.
“Harapannya adalah sembari membangun ikatan tersebut, kami juga harus meraih kemenangan. Itulah realitas dalam sepak bola,” katanya.
Menurut dia, kemenangan bukan sekadar target jangka pendek, tetapi juga bagian dari proses perkembangan tim.
“Kami tidak punya kemewahan waktu untuk sekadar mengembangkan tim tanpa meraih kemenangan, karena jika tidak menang, tidak akan ada perkembangan,” pungkas Mauro.
Borneo FC kini memiliki jeda internasional untuk memperkuat fondasi tim. Setelah kompetisi kembali bergulir, tantangannya menjadi lebih jelas: seberapa cepat skuad baru Pesut Etam mampu berubah dari kumpulan pemain menjadi sebuah tim yang benar-benar padu.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
