Pengguna QRIS di Kaltim Capai 948,3 Ribu, Merchant Tembus 910 Ribu

Penggunaan Qris sangat membantu warga dalam melakukan pembayaran
Penggunaan Qris sangat membantu warga dalam melakukan pembayaran

SAMARINDA, Inibalikpapan.com — Pembayaran digital di Kalimantan Timur (Kaltim) terus meluas. Hingga triwulan II 2026, jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menembus 948,3 ribu, sementara merchant yang menerima pembayaran QRIS mencapai sekitar 910 ribu.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Bayu Adi Hardiyanto mengatakan jumlah pengguna QRIS tersebut meningkat dari 906,6 ribu pengguna pada triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan juga terjadi pada sisi merchant. Jumlah merchant QRIS yang sebelumnya sekitar 835 ribu meningkat menjadi 910 ribu merchant.

“Ini mendukung semakin luasnya akses pembayaran digital bagi masyarakat dan pelaku usaha,” ungkap Bayu saat memaparkan perkembangan sistem pembayaran daerah, Senin (21/9/2026), dikutip dari laman Pemprov.

Pengguna QRIS Naik, Transaksi Tunai Tetap Dipakai

Menurut Bayu, meningkatnya penggunaan QRIS tidak berarti transaksi tunai akan ditinggalkan.

Bank Indonesia tetap menempatkan pembayaran tunai dan digital sebagai bagian dari pilihan sistem pembayaran yang dapat digunakan masyarakat sesuai kebutuhan.

“QRIS tidak akan mengeliminasi pembayaran tunai. Ini adalah salah satu alternatif yang disiapkan Bank Indonesia untuk memfasilitasi sistem pembayaran agar lebih mudah, efisien, dan efektif,” jelasnya.

Kemudahan transaksi melalui telepon seluler menjadi salah satu faktor yang mendorong penggunaan pembayaran digital.

“Tidak perlu lagi kita kantongi uang di dompet. Cukup dengan HP saja, sudah lebih mudah,” katanya.

Transaksi RTGS dan SKNBI Justru Tertekan

Di tengah ekspansi pembayaran digital berbasis QRIS, transaksi melalui sistem pembayaran bernilai besar dan kliring menunjukkan kontraksi pada Juli 2026.

Nominal transaksi melalui Real Time Gross Settlement (RTGS) tercatat Rp15,26 triliun. Sementara transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) mencapai Rp2,34 triliun.

Secara agregat, transaksi kedua layanan tersebut mengalami penurunan. Transaksi RTGS terkontraksi 18,19 persen, sedangkan SKNBI turun 22,81 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan perubahan pola transaksi pada sistem pembayaran di Kaltim berlangsung pada sejumlah kanal, dengan QRIS terus memperluas basis pengguna dan merchant.

Uang Kartal Kaltim Net Outflow Rp423,3 Miliar

Sementara itu, peredaran uang kartal di Kaltim pada Juli 2026 mencatat posisi net outflow Rp423,3 miliar.

Kondisi tersebut berarti jumlah uang kartal yang keluar dari Kaltim lebih besar dibandingkan uang yang masuk.

Bayu menyebut aktivitas ekonomi masyarakat di luar daerah menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut. Mobilitas masyarakat Kaltim yang bekerja maupun melakukan aktivitas ekonomi di luar daerah turut mendorong arus uang keluar.

“Ini menandakan banyak uang yang keluar. Salah satu faktornya karena orang Kaltim banyak yang bekerja di luar,” pungkasnya.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses