Pertagas Dorong Petani Naik Kelas Lewat Program Marta Tani Mandiri

Petani menanam padi
Petani menanam padi (foto : IST)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – PT Pertamina Gas (Pertagas) mendorong petani tidak lagi sekadar menghasilkan panen, tetapi mampu mengelola pertanian sebagai usaha yang mandiri dan berkelanjutan melalui program Marta Tani Mandiri.

Program yang dijalankan sejak 2022 di Desa Martadaya tersebut dirancang untuk membawa petani naik kelas, mulai dari memperbaiki produktivitas lahan, menguasai teknologi pertanian, memperkuat kapasitas produksi hingga membuka akses pasar.

Pejabat Sementara Manager Pertagas Operation Kalimantan Area, Lina Irianti, mengatakan program tersebut berangkat dari pemetaan persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya petani di sekitar jalur pipa.

Pertagas, kata dia, tidak ingin program pemberdayaan hanya berhenti pada pemberian bantuan.

“Konsep kami bukan hanya memberikan bantuan kemudian ditinggalkan, tetapi bagaimana menciptakan kemandirian. Harapannya masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak bergantung kepada orang lain dan tidak buta teknologi,” kata Lina.

Benahi Tanah Jadi Langkah Awal

Dalam pelaksanaannya, Pertagas terlebih dahulu mengidentifikasi akar persoalan yang membuat produktivitas pertanian belum optimal.

Di Desa Martadinata, salah satu persoalan yang ditemukan adalah kondisi media tanah yang belum mendukung produktivitas tanaman.

Pertagas kemudian menggandeng konsultan yang memiliki kompetensi di bidang pertanian untuk memberikan pendampingan mengenai pengelolaan tanah dan media tanam.

Menurut Lina, perbaikan tanah menjadi fondasi sebelum petani didorong meningkatkan produksi.

“Kalau tanahnya tidak produktif, seluas apa pun lahannya akan percuma. Karena itu, bagaimana membuat tanah menjadi produktif menjadi tapak awal program kami,” ujarnya.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya melihat konsistensi petani dalam mengembangkan lahan setelah memperoleh pendampingan.

Tak Berhenti di Panen

Pertagas juga tidak ingin keberhasilan program hanya diukur dari kemampuan petani menanam hingga menghasilkan panen.

Akses pasar menjadi bagian penting dari Marta Tani Mandiri karena peningkatan produksi tanpa kepastian penjualan berisiko membuat petani tetap menghadapi persoalan ekonomi.

“Percuma kita memproduksi panen banyak kalau tidak bisa dijual. Jadi peran Pertagas mencoba sampai ke arah sana. Bukan hanya bagaimana petani bisa menanam dan panen, tetapi bagaimana hasilnya benar-benar menghasilkan dan terus berputar,” jelas Lina.

Karena itu, Pertagas membangun sinergi dengan pemerintah daerah, perusahaan lain dan pemangku kepentingan terkait.

Kolaborasi dapat mencakup penyediaan pupuk, konsultasi pertanian, peralatan hingga dukungan pemasaran.

Dengan pola tersebut, petani diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan produksi, tetapi juga memahami bagaimana hasil pertanian dapat memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Pendampingan Dua hingga Tiga Tahun

Lina mengatakan pendampingan kelompok tani umumnya dilakukan selama dua hingga tiga tahun. Namun, berakhirnya masa pendampingan tidak berarti hubungan dengan kelompok tani langsung terputus.

Pertagas tetap membuka ruang konsultasi bagi kelompok tani yang telah mandiri apabila masih membutuhkan dukungan.

“Petaninya harus maju dan naik kelas karena harus mengikuti perkembangan zaman. Kuncinya adalah membuka wawasan,” tutur Lina.

Keberhasilan Marta Tani Mandiri juga diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain.

Bagi Pertagas, keberlanjutan program tidak semata ditentukan oleh dukungan perusahaan. Kemauan petani untuk belajar, menguasai teknologi dan mengembangkan usahanya menjadi faktor penting.

Karena itu, sinergi antara perusahaan, pemerintah, kelompok tani dan pemangku kepentingan lainnya menjadi fondasi agar pertanian tidak berhenti sebagai aktivitas produksi.

Target akhirnya bukan sekadar petani bisa panen, tetapi petani mampu mengelola lahan, menguasai teknologi, membaca pasar dan mengembangkan hasil pertanian sebagai sumber kemandirian ekonomi.

Penulis :Amir Syarifuddin

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses