Pertanian Modern di Desa Martadinata Belum Meluas, Baru 5 dari 23 Kelompok Tani yang Menerapkan
KUTAI TIMUR, Inibalikpapan.com – Penerapan pertanian modern di Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mulai menunjukkan hasil. Namun, praktik tersebut belum banyak diterapkan petani.
Dari sekitar 22–23 kelompok tani yang ada di Desa Martadinata, baru sekitar 3–5 kelompok yang mulai menerapkan pola pertanian modern. Sebagian besar petani masih mengandalkan metode konvensional.
Sekretaris Desa Martadinata, Jumriati, mengatakan salah satu kawasan yang dinilai paling berkembang berada di RT Cintu Batu. Sementara kelompok tani di wilayah lainnya masih menggunakan pola pertanian konvensional.
“Masih sedikit. Salah satu yang paling berkembang ada di RT Cintu Batu. Kalau di tempat lain masih konvensional,” kata Jumriati.
Salah satu kelompok tani yang berhasil mengembangkan pertanian modern merupakan kelompok binaan PT Pertamina Gas (Pertagas). Pendampingan perusahaan tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun dan mulai mendorong perubahan dalam pola budidaya petani.
Keberhasilan Kelompok Binaan Didorong Jadi Contoh
Jumriati menyebut pendampingan di kawasan Sidrap, yang berada di wilayah Desa Martadinata dan berbatasan dengan Kota Bontang, telah dimulai sejak 2021. Sementara pengembangan kegiatan serupa di kawasan Martadinata lainnya berlangsung sekitar 2022–2023.
Menurutnya, keberhasilan kelompok tani binaan Pertagas seharusnya tidak berhenti pada satu kelompok atau satu lokasi. Pengalaman tersebut dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lain yang ingin meningkatkan produktivitas.
Terlebih, kelompok yang telah mendapatkan pendampingan juga terbuka untuk berbagi pengalaman dengan petani lainnya.
“Terbuka, sangat terbuka. Jadi sebenarnya bisa belajar bersama,” ujarnya.
Persoalannya, memperluas penerapan pertanian modern ke seluruh kelompok tani tidak dapat dilakukan secara instan. Pemerintah desa harus mempertimbangkan waktu, tenaga, serta pola pendampingan agar program dapat berjalan secara bertahap.
Selama ini, dukungan pemerintah desa lebih banyak diberikan dalam bentuk bantuan pupuk dan bibit. Sementara pendampingan teknis secara intensif membutuhkan sumber daya yang lebih besar.
Khawatir Timbulkan Kecemburuan Antar Kelompok
Jumriati juga mengungkapkan tantangan lain dalam memperluas pendampingan, yakni menjaga agar program tidak menimbulkan kecemburuan antar kelompok tani.
“Kalau dibina seperti ini kan butuh waktu. Namanya membina, kami juga takut ada kecemburuan sosial,” katanya.
Karena itu, pemerintah desa mendorong kelompok tani untuk lebih proaktif mencari akses pendampingan, termasuk melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau CSR.
Menurut Jumriati, pola tersebut dapat menjadi salah satu cara memperluas penerapan pertanian modern tanpa seluruh beban pendampingan harus ditanggung pemerintah desa.
Pertanian Modern Diharapkan Perkuat Ekonomi Desa
Pemerintah Desa Martadinata berharap keberhasilan kelompok tani binaan Pertagas dapat ditularkan ke kelompok lainnya. Semakin banyak petani yang memperoleh pengetahuan dan keterampilan, semakin besar pula peluang peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat.
“Kami ingin sebenarnya ini disebarluaskan ke petani-petani lainnya, jadi tidak cuma di sini. Harapannya kegiatan seperti ini membantu perekonomian,” ujar Jumriati.
Ia mengapresiasi pendampingan Pertagas yang telah berjalan selama beberapa tahun. Menurutnya, keberlanjutan pendampingan penting agar petani tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan usaha pertanian secara mandiri.
Ke depan, pemerintah desa mendorong kelompok tani yang telah berhasil menjadi tempat belajar bagi kelompok lainnya. Dengan demikian, pertanian modern di Desa Martadinata tidak hanya berkembang di beberapa lokasi, tetapi dapat diterapkan lebih luas dan memberikan dampak ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.
Penulis : Amir Syarifuddin
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
