Pertanian Modern Dongkrak Pendapatan Petani: 3.000 Tanaman Tomat Bisa Hasilkan Rp35 Juta Sekali Panen

Pertanian modern hasilkan 35 juta sekali panen (foto : Trubus)
Pertanian modern hasilkan 35 juta sekali panen (foto : Trubus)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Pertanian modern mulai menunjukkan hasil di tengah tantangan biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja dan persoalan kualitas lahan. Dari sekitar 3.000 tanaman tomat, hasil sekali panen disebut bisa mencapai sekitar Rp35 juta dengan masa produksi sekitar dua bulan.

Angka tersebut menjadi gambaran potensi ketika budidaya pertanian dilakukan dengan pola yang lebih terukur, mulai dari pengelolaan air, perbaikan kualitas tanah, pemanfaatan energi terbarukan hingga pengaturan siklus tanam.

Konsultan pertanian Dwi Dalih Mulyanto mengatakan, modernisasi pertanian tidak cukup hanya dengan mengganti cara tanam. Petani juga perlu mengubah cara mengelola seluruh proses produksi agar lebih efisien dan berkelanjutan.

Salah satu yang paling penting adalah sistem pengairan.

Menurut Dwi, metode penyiraman manual akan menjadi persoalan ketika lahan yang dikelola semakin luas. Selain membutuhkan banyak tenaga, waktu yang diperlukan juga membuat kapasitas produksi menjadi terbatas.

“Kalau lahan lima hektare disiram secara manual, tidak mungkin. Dengan sistem seperti ini, satu blok cukup dinyalakan sekitar setengah jam, kemudian dimatikan dan dilanjutkan ke blok berikutnya,” kata Dwi.

Sistem tersebut membuat distribusi air lebih cepat dan terukur. Penggunaan energi terbarukan juga dapat mengurangi biaya operasional, terutama pengeluaran untuk bahan bakar.

Bukan Sekadar Pakai Teknologi

Dwi menegaskan, pertanian modern tidak identik hanya dengan penggunaan mesin atau teknologi pengairan. Tanah justru menjadi fondasi utama sebelum produktivitas tanaman digenjot.

Ia menemukan sebagian lahan masih memiliki kandungan unsur hara rendah serta tingkat keasaman atau pH yang belum ideal. Kondisi tersebut membuat tanaman kesulitan menyerap nutrisi secara optimal meski pupuk yang diberikan memiliki kualitas baik.

“Fondasi tanahnya harus kuat. Kalau fondasinya tidak kuat, kita bangun sampai 10 tingkat pun bisa roboh. Begitu juga dengan pertanian. Tanaman bisa tumbuh, tetapi belum tentu menghasilkan,” ujarnya.

Karena itu, perbaikan tanah dilakukan secara bertahap dan rutin. Perubahan kualitas tanah mulai dapat terlihat dalam satu hingga dua bulan, sedangkan stabilisasi pH membutuhkan waktu sekitar enam bulan.

Pupuk kandang yang digunakan juga tidak langsung diaplikasikan ke lahan. Pupuk terlebih dahulu diproses untuk mengurangi potensi penyakit sekaligus mendorong berkembangnya mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah.

Dari Lahan Bermasalah Menjadi Produktif

Pendampingan terhadap petani di lokasi tersebut telah dilakukan sejak 2022. Salah satu petani, Efendi, sebelumnya mengikuti pelatihan yang digelar bersama Pertamina Gas.

Setelah menghadapi berbagai kendala dalam budidaya, dilakukan survei dan pemeriksaan kondisi tanah untuk mengetahui persoalan yang harus diperbaiki.

Hasil perbaikan mulai terlihat. Kualitas pH tanah di sejumlah area dinilai semakin baik dan pola panen mulai berjalan sejak akhir 2024.

Sistem yang diterapkan bukan menanam satu komoditas secara terus-menerus, melainkan menggunakan pola tanam bergilir, antara lain tomat dan cabai.

Pola tersebut membuat lahan tidak berhenti berproduksi ketika satu komoditas memasuki akhir masa panen.

3.000 Tomat, Rp35 Juta Sekali Panen

Dwi menyebut hasil yang mulai terlihat dari pola tersebut cukup signifikan. Dari sekitar 3.000 tanaman tomat, hasil satu kali panen dapat mencapai sekitar Rp35 juta, dengan masa produksi sekitar dua bulan.

Nilai tersebut belum termasuk hasil dari komoditas lain yang dibudidayakan di lahan yang sama.

Pola tanam bergilir membuat siklus produksi dapat disusun lebih terencana. Ketika satu komoditas mulai memasuki akhir masa panen, komoditas lainnya dipersiapkan untuk memasuki masa produksi.

Dengan cara tersebut, lahan diupayakan tidak terlalu lama berada dalam kondisi tidak produktif.

Pertanian Modern Tekan Biaya, Jaga Produksi

Menurut Dwi, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa modernisasi pertanian harus dilihat secara menyeluruh.

Teknologi pengairan memang membantu menghemat waktu dan tenaga. Energi terbarukan dapat menekan biaya operasional. Namun, keduanya tidak akan optimal apabila kondisi tanah tidak mendukung pertumbuhan tanaman.

Karena itu, petani perlu mengelola air, tanah, energi, biaya dan siklus produksi secara bersamaan.

“Pertanian modern” pada akhirnya bukan hanya soal seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi bagaimana seluruh sumber daya dikelola agar biaya lebih efisien dan hasil produksi lebih konsisten.

Jika pola tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan, lahan pertanian tidak hanya menjadi tempat bercocok tanam, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai sumber pendapatan yang terus berputar dan membuka peluang bagi petani untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

Penulis : Amir Syarifuddin

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses