Rupiah Melemah, DPR Soroti Kredibilitas Bank Indonesia

lustrasi uang rupiah (Pixabay/WonderfullBali)
Ilustrasi uang rupiah (Pixabay/WonderfullBali)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi sorotan tajam DPR RI. Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, mempertanyakan kredibilitas Bank Indonesia (BI) dalam merespons tekanan di pasar keuangan nasional.

Dalam Rapat Kerja bersama Gubernur BI Perry Warjiyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (18/5/2026), Primus menilai kondisi ekonomi saat ini menunjukkan anomali.

Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat di atas 5 persen. Namun di sisi lain, nilai tukar rupiah justru terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat bahkan mata uang global lainnya.

“Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tapi rupiah kita jeblok hingga menyentuh level terendah,” tegasnya.

Rupiah Melemah Terhadap Banyak Mata Uang

Primus menilai pelemahan rupiah tidak bisa lagi dianggap sebagai dampak semata dari tekanan global. Pasalnya, depresiasi terjadi terhadap berbagai mata uang, mulai dari dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia hingga rial.

Kondisi ini, menurutnya, memunculkan pertanyaan serius terkait kualitas kebijakan moneter BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

“Ini bukan hanya terhadap dolar, tapi hampir semua mata uang. Ini yang harus dijawab secara serius,” ujarnya, dikutip dari laman DPR.

Ia bahkan menilai kondisi tersebut mulai menggerus kepercayaan publik terhadap bank sentral.

“Menurut saya, Bank Indonesia sedang kehilangan trust dan kredibilitas,” kritiknya.

Faktor Domestik Jadi Sorotan

Senada, anggota Komisi XI DPR RI lainnya, Harris Turino, menilai tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal.

Menurutnya, ada persoalan struktural dalam negeri yang turut memengaruhi persepsi pasar dan kepercayaan investor.

“Kalau tekanan masih kuat, berarti ada faktor domestik yang perlu dibenahi,” katanya.

Ia menyebut sejumlah faktor penting seperti kondisi fiskal, defisit transaksi berjalan, dinamika investasi, hingga kepastian kebijakan ekonomi sebagai penentu ketahanan rupiah.

BI Diminta Perkuat Koordinasi dan Komunikasi

Harris mengakui BI telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk intervensi pasar valas dan pengelolaan instrumen moneter. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup meredam tekanan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal, serta komunikasi yang konsisten untuk menjaga kepercayaan pasar.

“Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri. Stabilitas rupiah juga sangat dipengaruhi kondisi domestik dan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah,” tegasnya.

Komisi XI DPR RI memastikan akan terus mengawasi langkah-langkah BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan penguatan fundamental ekonomi dan meningkatnya kepercayaan investor, rupiah diharapkan mampu lebih tahan menghadapi tekanan global ke depan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini berada di kisaran Rp17.630 hingga Rp17.670 per US$ pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Sejumlah laporan bahkan mencatat level ini sebagai rekor terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses