Air Masih Jadi Masalah Warga, Pemkot Balikpapan Kejar Embung Aji Raden
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Krisis air bersih di Balikpapan masih dirasakan sebagian warga. Aliran air yang tidak stabil, tekanan lemah, hingga jadwal distribusi bergilir masih menjadi keluhan harian, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini membuat penyediaan air baku menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Balikpapan.
“Air bersih ini kebutuhan dasar. Karena itu kami menyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum atau RISPAM untuk mendukung PTMB,” kata Kepala Bappeda-Litbang Kota Balikpapan Murni, dikonfirmasi, Senin (5/1/2026).
Dalam RISPAM tersebut, Pemkot Balikpapan mencatat ada 11 lokasi yang dinilai berpotensi menjadi sumber air baku, mulai dari bendungan, intake sungai, hingga opsi pengolahan air laut. Namun, tidak semua alternatif tersebut bisa langsung direalisasikan.
“Upaya mengatasi krisis ini sempat diarahkan ke desalinasi air laut, tapi biaya investasinya sangat besar,” ujar Murni.
Karena itu, rencana tersebut diperkirakan batal dilaksanakan. Sebagai gantinya, Pemkot Balikpapan kini memprioritaskan percepatan pembangunan Embung Aji Raden. Proyek ini dinilai sebagai solusi paling realistis dan cepat untuk menambah pasokan air baku di kota minyak.
“Sekarang kami fokus penuh pada Embung Aji Raden agar bisa mendapatkan pembiayaan dari pemerintah pusat,” kata Murni.
Pasokan Air Baku
Ia menjelaskan, saat beroperasi penuh, Embung Aji Raden ditargetkan mampu menambah pasokan air baku sekitar 200 liter per detik. Pembangunannya diproyeksikan rampung pada 2027 hingga 2028.
Namun sebelum masuk ke tahap konstruksi, Pemkot Balikpapan masih harus menyelesaikan proses pembebasan lahan seluas lebih dari 72 hektare. “Saat ini kami masih mengalokasikan APBD untuk pembebasan lahan, sambil menunggu pelimpahan kewenangan dari Pemprov Kaltim karena penetapan lokasi sebelumnya sudah kedaluwarsa,” jelas Murni.
Ia berharap proses tersebut dapat segera diselesaikan. “Semoga pembebasan lahan ini cepat selesai. Bappeda bekerja maksimal,” ujarnya.
Selain Embung Aji Raden, Pemkot Balikpapan juga menyiapkan opsi tambahan melalui proyek Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM Sepaku Semoi. Proyek ini diharapkan mampu menutup defisit air baku eksisting yang saat ini mencapai sekitar 1.000 liter per detik.
“SPAM Sepaku Semoi diharapkan bisa menutup kekurangan pasokan air baku eksisting sebesar seribu liter per detik,” kata Murni.
Pemanfaatan Bendungan Sepaku Semoi nantinya direncanakan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha atau KPBU bersifat unsolicited.
“Untuk konstruksinya sekitar dua tahun dan operasional selama 30 tahun, dengan total biaya berkisar Rp1,2 triliun,” jelasnya.
Menurut Murni, lingkup pekerjaan dalam skema tersebut cukup luas, mulai dari pembangunan intake, jaringan transmisi, reservoir, jaringan pipa distribusi, hingga sambungan rumah. Meski melibatkan badan usaha, pemerintah tetap memperhatikan keterjangkauan harga air bagi masyarakat.
“Harapannya nanti sesuai perhitungan tarif, ada garansi harga jual air di kisaran Rp10 ribu. Tapi ini masih terus didiskusikan,” katanya.
Di luar proyek bendungan dan SPAM besar, Pemkot Balikpapan juga menjalankan berbagai program pendukung lainnya. “Pengembangan air minum juga dilakukan lewat sumur dalam yang merupakan hibah dari Kementerian ESDM sejak 2018 sampai 2020,” ujar Murni.
Kajian Sumur Dalam
Pada 2026, pendanaan APBD juga disiapkan untuk berbagai program yang dilaksanakan Dinas Pekerjaan Umum. “Banyak program yang kami jalankan, mulai dari perluasan jaringan perpipaan, DED jaringan sumur dalam Sepinggan, kajian kapasitas sumur dalam, sampai revisi RISPAM,” jelasnya.
Selain itu, pemanfaatan air hujan juga mulai didorong. “Kami sudah membangun instalasi pemanenan air hujan di 19 unit. Semua ini bagian dari upaya mendukung ketersediaan air baku dan air bersih di masyarakat,” kata Murni.
Ia menegaskan bahwa potensi air baku di Balikpapan sebenarnya masih tersedia, namun seluruhnya membutuhkan proses panjang dan perencanaan matang. “Kalau bicara potensi, air baku masih ada. Tapi tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan. Semua harus melalui proses dan masuk dalam rencana bisnis PDAM,” ujarnya.
Menurut Murni, penyediaan air baku tidak bisa hanya dibebankan kepada PDAM. “PDAM itu hanya operator. Penyediaan air baku harus dilakukan bersama dan didukung multi-stakeholder,” tegasnya.
Terpisah Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, menyampaikan bahwa pihaknya menunggu komitmen pemerintah daerah untuk melanjutkan penganggaran pembebasan lahan. Langkah tersebut penting karena proses pembebasan sudah berlangsung secara bertahap.
“Kami masih menunggu langkah pemerintah daerah untuk pembebasan lahan,” ujarnya.
Diketahui, kebutuhan pembebasan lahan Embung Aji Raden diperkirakan mencapai sekitar Rp 80 miliar. Sementara pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air (IPA) akan ditangani oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV.
Pembebasan Lahan dan Pembangunan
Proyek Embung Aji Raden telah masuk dalam rencana bisnis PTMB tahun 2027. Yudhi berharap proses pembebasan lahan dapat dilakukan pada 2026–2027 sehingga pembangunan fisik bisa segera dimulai.
“Mudah-mudahan 2026–2027 bisa dilakukan pembebasan lahan dan mulai pembangunan fisik,” katanya.
Rencana tersebut disebut sangat strategis untuk meningkatkan suplai air baku. Menurut Yudhi, sebenarnya IPA sudah siap, hanya perlu penambahan satu unit lagi. “Tahap pertama sudah ada di Teritip I. Nanti tinggal satu IPA lagi,” jelasnya.
Pembangunan IPA Teritip Tahap II direncanakan memiliki kapasitas 200 liter per detik. Dengan tambahan ini, pasokan air di wilayah Balikpapan Timur diproyeksikan lebih stabil dan mampu menambah sekitar 11.118 sambungan rumah (SR). Jika suplai tambahan 200 liter per detik terealisasi, layanan air untuk wilayah timur dan sebagian selatan akan lebih aman dari risiko kekurangan pasokan.
Yudhi menargetkan fasilitas dari Embung Aji Raden dapat mulai memberi manfaat pada 2027–2028. Saat ini, IPA Teritip Tahap I yang juga memiliki kapasitas 200 liter per detik melayani lebih dari 16 ribu SR. Namun akibat tingkat kehilangan air atau non-revenue water (NRW) yang mencapai 26,93 persen, layanan optimalnya saat ini hanya sekitar 14 ribu SR.
“Insyaallah ada perbaikan layanan terus untuk kelancaran distribusi air,” pungkas Yudhi.***
BACA JUGA
