Anak SD Bunuh Diri Lantaran Tak Mampu Beli Buku, Ketua Komisi X DPR: Alarm Keras bagi Negara

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian / DPR
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian / DPR

NGADA, inibalikpapan.com – Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakhiri hidupnya setelah tak mampu membeli buku dan pena untuk sekolah. Tragedi ini terjadi pada Kamis (29/1) menyisakan duka mendalam sekaligus sorotan nasional terhadap sistem pendidikan dan perlindungan sosial.

Pagi hari sebelum kejadian, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah neneknya. Padahal, pagi itu ia seharusnya berangkat ke sekolah. Siang harinya, warga yang sedang mengurus kerbau di sekitar rumah nenek korban menemukan YBS sudah tidak bernyawa di sebuah pohon cengkih dekat rumah.

Sehari sebelumnya, YBS menginap di rumah ibunya. Saat itu, ia sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena. Namun, permintaan tersebut tak terpenuhi karena kondisi ekonomi keluarga.

“Tapi ibunya tidak punya uang. Ayahnya sudah meninggal saat YBS ada di kandungan,” kata Bernardus H Tage, camat setempat, dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.

YBS diketahui tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun, sementara ibu di kampung sebelah. Tetangga menyebut YBS sebagai anak yang baik, jarang terlihat sedih, dan rajin belajar meski hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Setelah kejadian, aparat Polres Ngada menemukan secarik kertas bertulis tangan menggunakan bahasa daerah setempat. Surat itu berisi pesan perpisahan YBS kepada sang ibu dan keluarga.

“Surat untuk mama. Saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya mama. Jangan pula Mama mencari atau merindukanku. Selamat tinggal mama….”

Kegagalan Negara

Peristiwa ini memantik reaksi keras dari berbagai pihak. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyebut tragedi tersebut sebagai kegagalan sistemik yang tidak boleh terulang.

“Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat. Peristiwa yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun,” ujar Hetifah.

Menurutnya, anak usia 10 tahun seharusnya mendapatkan perlindungan penuh dari negara, terutama dalam menjamin hak dasar untuk belajar.

“Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena. Kasus ini menunjukkan bahwa sangat penting bagi kita untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar,” tegasnya.

Hetifah mendesak pemerintah melakukan evaluasi total terhadap konsep pendidikan gratis agar tidak berhenti pada pembebasan biaya SPP semata.

“Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin. Ke depan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis termasuk perlengkapan belajar,” katanya.

Ia juga menyoroti lemahnya jaring pengaman sosial bagi keluarga rentan.

“Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi. Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan,” pungkasnya.***

Catatan Redaksi:
Hidup sering kali terasa sangat berat. Namun, bunuh diri bukanlah jalan keluar. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan berat atau pikiran untuk mengakhiri hidup, hubungi Hotline 119 ext. 8 atau WhatsApp 0813-8007-3120 untuk dukungan dan konsultasi.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses