Atasi Lonjakan Harga, Bulog dan Pemda Percepat Infrastruktur Pangan di Kalimantan

Penandatanganan hibah lahan antara Bulog dan Pemda Kalimantan untuk pembangunan infrastruktur pascapanen di Balikpapan, Senin (6/4).
Penandatanganan hibah lahan antara Bulog dan pemerintah daerah Kalimantan untuk pembangunan infrastruktur pascapanen di Balikpapan, Senin (6/4). Foto: Ist

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Perum Bulog bersama pemerintah daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara tancap gas memperkuat infrastruktur pangan. Bukan sekadar membangun gudang, tapi merombak sistem distribusi dari hulu ke hilir supaya lebih rapi, efisien, dan harga bahan pokok tetap terkendali sampai ke daerah terpencil.

Direktur SDM dan Transformasi Bulog, Prof. Sudarsono Hardjosoekarto, menjelaskan langkah ini jadi bagian penting menjaga ketahanan pangan nasional. Fokusnya jelas: hasil panen petani terserap dengan harga layak, sementara pasokan ke masyarakat tetap aman.

Terbaru, Bulog sudah teken MoU sekaligus menerima hibah lahan dari sejumlah daerah seperti Malinau, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Kutai Kartanegara, Senin (6/4/2026). Ada juga daerah lain yang masih berproses. Sementara Bontang sudah selangkah lebih maju, masuk tahap lanjutan menuju pembangunan fisik.

“Kami membangun ekosistem pangan berbasis wilayah. Pendekatan hulu-hilir ini diharapkan dapat menyerap produksi petani dengan harga yang wajar, sekaligus menjamin ketersediaan pasokan di wilayah konsumsi,” ujarnya, didampingi Pimpinan Wilayah Bulog Kaltim–Kaltara, Musazdin Said.

Di wilayah penghasil, pembangunan difokuskan ke sektor hulu. Mulai dari dryer (pengering), penggilingan padi, silo penyimpanan, sampai gudang beras. Khusus daerah jagung, juga disiapkan fasilitas pengering dan silo jagung.

Targetnya, panen raya bisa langsung terserap cepat, kehilangan pascapanen ditekan, dan kualitas hasil tetap terjaga. Dengan begitu, petani tidak lagi merugi karena hasil panen menumpuk atau rusak.

Sementara di daerah non-produsen atau pelosok seperti Mahakam Ulu, pendekatannya berbeda. Bulog memprioritaskan pembangunan gudang distribusi berjenjang dari tingkat utama hingga kecamatan.

Harga Beras Pernah Melonjak di Mahulu

Langkah ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, harga beras di Mahulu sempat melonjak ekstrem—tembus Rp1 juta per 25 kilogram, bahkan mencapai Rp1,3 juta di beberapa titik—akibat distribusi yang terganggu dan mahalnya ongkos logistik.

Lewat pembangunan gudang strategis di lahan hibah pemda, Bulog menargetkan pasokan tetap stabil sepanjang tahun. Harapannya, lonjakan harga bisa ditekan dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Untuk kebutuhan lahan, gudang dasar butuh sekitar 1,5 hektare. Sementara fasilitas terintegrasi bisa sampai 5 hektare, tergantung kemampuan masing-masing daerah. Nantinya, kawasan ini juga dilengkapi kantor operasional, akses jalan, hingga sarana logistik pendukung.

Artinya, yang dibangun bukan cuma gudang, tapi ekosistem pangan lengkap.

Bontang Jadi Contoh Paling Siap

Di Bontang, progresnya paling cepat. Pemda sudah menyiapkan akses jalan, merampungkan perencanaan teknis, hingga pengolahan lahan. Sertifikasi lahan juga dikebut agar konstruksi segera berjalan.

Meski begitu, masih ada daerah yang belum ikut karena kendala pemahaman regulasi kerja sama. Bulog berharap ke depan makin banyak pemda yang terlibat aktif.

Secara ekonomi, program ini dinilai memberi efek ganda: distribusi makin efisien, kehilangan hasil panen berkurang, kesejahteraan petani meningkat, dan yang paling penting—harga pangan tetap stabil, terutama di wilayah dengan tantangan logistik seperti Kalimantan.

Kolaborasi Bulog dan pemda ini pun jadi fondasi baru untuk ketahanan pangan yang lebih kuat, merata, dan berkelanjutan ke depan.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses