Balikpapan Maksimalkan APBD untuk Pembinaan Atlet Sepak Bola Lokal, Bukan untuk Beli Pemain
BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo menegaskan arah baru pembinaan sepak bola di kota ini. Pemerintah Kota Balikpapan tidak ingin prestasi olahraga dibangun lewat jalan pintas membeli pemain dari luar daerah, melainkan melalui pembinaan atlet usia dini yang terencana dan berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan Bagus saat menghadiri Musyawarah Pemilihan Ketua Balikpapan All Stars (BAS) di Rumah Jabatan Wakil Wali Kota, Senin (2/2/2026).
Menurut Bagus, anggaran olahraga yang dialokasikan melalui APBD harus benar-benar menyentuh akar persoalan, yakni pembinaan, fasilitas, dan kualitas pelatih, bukan untuk mendatangkan pemain instan demi mengejar gelar juara.
“Anggaran itu bukan untuk membeli pemain. Anggaran untuk melengkapi fasilitas dan memastikan pembinaan berjalan dengan benar. Pemain yang ada juga punya tanggung jawab membina anak-anak usia dini,” ujar Bagus.
Ia menilai Balikpapan sebenarnya memiliki potensi besar melahirkan pesepak bola berkualitas. Namun, potensi tersebut belum tergarap maksimal karena masih adanya ketergantungan pada atlet dari luar daerah dalam berbagai ajang kejuaraan.
“Ketika juara POPDA atau Porprov, ternyata sekitar 50 persen pemainnya bukan orang Balikpapan. Ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Kita tidak ingin sistem jual-beli pemain. Kita ingin membina anak-anak kita sendiri,” tegasnya.
Selain soal sistem pembinaan, Bagus juga mengingatkan agar olahraga tidak ditarik ke kepentingan di luar prestasi. Ia menekankan pentingnya menjaga dunia olahraga tetap steril dari muatan politik.
“Olahraga tidak boleh dibawa ke ranah politik. Harus murni olahraga, supaya kita mendapatkan bibit yang tepat,” katanya.
Wakil Wali Kota juga menyoroti persoalan fasilitas olahraga, khususnya lapangan sepak bola yang menjadi basis pembinaan. Ia menyebut masih ada aset milik Pemerintah Kota Balikpapan yang terkendala persoalan hukum, salah satunya lapangan di Balikpapan Barat.
“Lapangan itu milik pemkot, tapi masih digugat oleh oknum. Ini harus bisa diselesaikan. Kalau terus dibiarkan, sampai ke Mahkamah Agung pun tidak akan selesai,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah kota berkomitmen menata dan meningkatkan kualitas fasilitas olahraga, termasuk mempercantik Lapangan PONI dengan lintasan atletik dan area parkir agar dapat dimanfaatkan maksimal oleh atlet dan masyarakat.
Bagus juga mendorong pembangunan lapangan sepak bola berumput alami di sejumlah wilayah, seperti Balikpapan Tengah dan Balikpapan Selatan, demi meningkatkan kualitas latihan atlet muda.
“Saya ingin lapangan dengan rumput alami, supaya anak-anak berlatih di kondisi lapangan yang sesungguhnya,” kata Bagus.
Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Pemerintah Kota Balikpapan menargetkan terbentuknya tim sepak bola usia 12 tahun dan usia 16 tahun. Untuk mencapai target tersebut, ASKOT PSSI Kota Balikpapan akan dilibatkan dalam penyusunan peta jalan pembinaan yang jelas dan terukur.
“APBD salah satunya untuk memotivasi anak-anak agar bisa berprestasi. Kita tidak mau membeli pemain, tapi membina,” ujarnya.
Bagus berharap kepengurusan baru Balikpapan All Stars dapat menjadi motor penggerak pembinaan usia dini, sehingga kejayaan sepak bola Balikpapan dan Kalimantan Timur seperti dua dekade lalu bisa kembali terwujud.***
BACA JUGA
