Balikpapan Menuju Kota Ramah Lansia, DP3AKB Siapkan Fondasi Utama
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) terus mempersiapkan langkah strategis menuju kota ramah lansia atau age-friendly city.
Salah satu inisiatifnya adalah persiapan pelaksanaan Sekolah Lansia SMART, yang dirancang sebagai fondasi pembelajaran dan pemberdayaan bagi warga lanjut usia seiring meningkatnya jumlah lansia di Balikpapan.
Kepala Bidang Ketahanan Keluarga DP3AKB Balikpapan, dr. Luluk Kumala Kafbiyah, mengatakan bahwa proyeksi jumlah lansia yang mencapai lebih dari 200.000 jiwa pada 2045 merupakan indikator kuat bahwa kota harus mulai membangun sistem layanan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar program pelatihan. Ini bagian dari transisi Balikpapan menjadi kota yang siap menghadapi perubahan struktur penduduk dalam dua dekade ke depan,” ujarnya, Senin (1/12/2025).
Menurut Luluk, konsep SMART Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat dibuat untuk menjadi model awal pembangunan ekosistem kota yang peduli terhadap kebutuhan lansia. Ia menegaskan bahwa kota ramah lansia tidak hanya berbicara tentang fasilitas fisik, tetapi juga kesiapan sosial, budaya, dan sistem pendukung berbasis komunitas.
“Ketika jumlah lansia meningkat drastis, kota harus menjawab dengan kebijakan dan layanan yang tepat. Sekolah Lansia SMART adalah pintu masuknya, karena melalui program ini kami membentuk lansia yang aktif, sekaligus membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghormati dan mendukung kelompok lansia,” jelasnya.
Meski masih menunggu penyesuaian anggaran, DP3AKB telah lebih dulu menata struktur organisasi kegiatan, membentuk pengurus, dan menetapkan sekretariat. Program percontohan tingkat kota yang digelar November lalu di Aula Disdukcapil DP3AKB dihadiri kader Bina Keluarga Lansia (BKL), penyuluh KB, serta perwakilan lansia dari berbagai kelurahan.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber lintas disiplin, mulai dari dokter spesialis jantung, dokter penyakit dalam, psikolog, hingga instruktur senam dan penyuluh KB. Materi disusun untuk menyiapkan lansia yang lebih sehat secara fisik, stabil secara mental, dan mampu tetap produktif sesuai kapasitas masing-masing. “Jika lansia aktif, kota pun berkembang,” kata Luluk.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi prasyarat utama suksesnya transformasi menuju kota ramah lansia. Puskesmas, kelurahan, kelompok masyarakat, hingga keluarga harus terlibat dalam gerakan besar membangun ruang hidup yang aman, nyaman, dan inklusif bagi warga usia lanjut.
DP3AKB menargetkan agar Sekolah Lansia SMART dapat diperluas ke seluruh kecamatan pada 2026, sekaligus menjadi pemicu munculnya berbagai inovasi layanan lansia lain. “Kami ingin memastikan bahwa Balikpapan bukan hanya siap menua, tetapi mampu menjadikan para lansianya sebagai subjek pembangunan. Kota ramah lansia bukan mimpi, dan langkah itu dimulai sekarang,” tegas Luluk.***
BACA JUGA
