Bawa Busur Panah hingga Celurit di Dini Hari, Belasan Remaja di Balikpapan Diamankan Polisi
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Petugas kepolisian mengamankan 14 remaja di bawah umur yang kedapatan membawa berbagai senjata berbahaya, menyusul laporan warga terkait dugaan rencana tawuran pada Minggu (18/1) dini hari sekitar pukul 02.00 Wita.
Patroli rutin yang ditingkatkan itu dilakukan Polsek Balikpapan Barat sebagai respons atas keresahan masyarakat. Dari tangan para remaja, polisi menemukan dua busur beserta anak panah, ketapel, celurit, palu, dan martil—benda-benda yang berpotensi menimbulkan korban serius jika benar digunakan.
Kapolsek Balikpapan Barat AKP Sukarman Sarun, menegaskan bahwa langkah kepolisian semata-mata bertujuan mencegah hal terburuk terjadi.
“Perlu kami sampaikan bahwa anak-anak tersebut tidak ditangkap atau ditahan, melainkan diamankan sementara guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka rata-rata masih di bawah umur, dengan rentang usia 15 hingga 18 tahun,” ujar AKP Sukarman Sarun, Minggu (18/1/2026).
Menurut Sukarman, barang-barang yang dibawa para remaja tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai bagian dari kenakalan remaja biasa. Risiko yang ditimbulkan terlalu besar, bukan hanya bagi kelompok yang terlibat, tetapi juga masyarakat sekitar.
“Ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan remaja biasa. Apabila senjata-senjata ini digunakan dan mengenai seseorang, dampaknya bisa sangat fatal,” tegasnya.
Polisi menduga, peristiwa ini berkaitan dengan konflik sebelumnya antara kelompok remaja antarwilayah. Konflik tersebut saat ini masih dalam penanganan Polresta Balikpapan dan diketahui telah menyebabkan dua orang mengalami luka.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa potensi kekerasan antar kelompok remaja di Balikpapan belum sepenuhnya mereda. Tanpa pengawasan dan kepedulian bersama, konflik kecil bisa berubah menjadi tragedi yang melibatkan senjata mematikan.
Karena itu, Sukarman menekankan bahwa tanggung jawab menjaga anak dan remaja tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada aparat kepolisian. Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi kunci utama pencegahan.
“Di rumah anak mungkin terlihat baik dan patuh, tetapi di luar lingkungan keluarga kita tidak selalu mengetahui dengan siapa mereka bergaul. Karena itu, pengawasan dan kepedulian harus dilakukan secara bersama-sama,” jelasnya.
Menjelang bulan suci Ramadan, kepolisian juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan, aktivitas negatif remaja—termasuk fenomena perang sarung—kerap meningkat jika tidak diawasi dengan baik.
“Kami berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. Mari kita jaga Balikpapan, khususnya Balikpapan Barat, agar tetap aman dan kondusif. Semua itu dimulai dari keluarga, lingkungan terdekat, hingga masyarakat secara luas,” pungkas Sukarman.***
BACA JUGA
