Bos Danantara Yakin IHSG Rebound Pekan Pertama Februari, Sudah Lobi Investor Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur dan mayoritas investor memilih untuk melakukan aksi jual pada Kamis (29/1/2026). Foto Rina-Suara.com

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — CEO BPI Danantara Rosan Roeslani optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali menguat pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Keyakinan ini muncul setelah serangkaian komunikasi dan lobi dengan investor global yang dinilai merespons positif langkah reformasi pasar modal Indonesia.

Rosan mengatakan, para investor asing mulai memahami kondisi pasar Indonesia serta upaya pemerintah dan pemangku kepentingan dalam memperbaiki tata kelola dan transparansi.

“Kalau reformasi dijalankan, mereka akan semakin confidence dengan pasar kita. Tapi dengan aksi yang kita lakukan beberapa hari ini mereka juga meresponsnya sangat positif,” ujar Rosan saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu (1/2/2026), dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.

Ia pun menyatakan keyakinannya bahwa sentimen positif tersebut akan tercermin dalam pergerakan IHSG. “Jadi Insha Allah, saya yakin hari Senin dan berikutnya pasar modal kita akan rebound dan akan berjalan dengan baik,” sambungnya.

Perlunya Peningkatan Transparansi

Optimisme ini muncul setelah IHSG sempat tertekan dan mayoritas investor melakukan aksi jual pada Kamis (29/1/2026). Menurut Rosan, salah satu masukan utama dari investor asing adalah perlunya peningkatan transparansi, khususnya terkait keterbukaan data kepemilikan saham.

Saat ini, ambang batas keterbukaan kepemilikan saham di pasar modal Indonesia masih berada di angka 5 persen. Namun, investor global mendorong agar batas tersebut diturunkan menjadi 1–2 persen, seperti yang diterapkan di sejumlah negara lain.

“Mereka menginginkan keterbukaan itu tidak hanya di atas 5 persen. Di beberapa negara seperti India, batasnya 1 persen atau 2 persen,” jelas Rosan.

Ke depan, isu transparansi dan likuiditas pasar juga akan dibahas dalam pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Investor menilai kebijakan peningkatan free float saham menjadi 15 persen sebagai sinyal positif perbaikan likuiditas pasar.

Rosan menegaskan, penurunan ambang batas keterbukaan kepemilikan saham dinilai penting untuk meminimalkan potensi distorsi harga dan memperkuat kepercayaan investor.

“Dengan keterbukaan yang lebih rendah, aksi pembentukan harga yang tidak wajar akan semakin sulit karena seluruh pergerakan investor dapat terdeteksi,” pungkasnya.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses