Bos Instagram Akui Ledakan Konten AI, Kreator Kian Sulit Bedakan Karya Asli

CEO Instagram, Adam Mosseri. [Instagram]

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Ledakan konten buatan kecerdasan buatan (AI) kian membanjiri lini masa media sosial sepanjang 2025 dan prediksinya akan semakin masif ke depan. CEO Instagram, Adam Mosseri, mengakui kondisi ini dan menyebut platformnya kini menghadapi tantangan serius. Utamanya dalam membedakan konten asli dan konten sintetis.

Dalam sebuah unggahan panjang yang membahas arah Instagram pada 2026, Mosseri menyampaikan pandangan terbuka tentang dampak besar AI terhadap ekosistem kreator, fotografer, dan pengguna media sosial secara umum.

Menurut Mosseri, kemampuan AI yang semakin canggih membuat hal-hal yang selama ini menjadi ciri khas kreator manusia kini dapat semua tiru dengan mudah oleh teknologi.

“Segala hal yang membuat kreator itu penting. Mulai dari keaslian, koneksi, dan suara yang tak bisa dipalsukan dan kini tiba-tiba bisa diakses siapa saja dengan alat yang tepat,” tulis Mosseri, dilansir dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.

Ia mengakui, feed Instagram kini mulai penuh konten yang bersifat sintetis. Namun demikian, Mosseri menegaskan ia tidak sepenuhnya memandang fenomena ini sebagai ancaman. Menurutnya, banyak karya berbasis AI justru memiliki kualitas tinggi dan tingkat kreativitas yang tidak bisa diabaikan.

Meski begitu, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mendeteksi konten palsu. Melainkan menentukan mana konten yang benar-benar dibuat oleh manusia.

“Mungkin kita perlu memikirkan ulang pendekatan pelabelan. Bukan hanya mengidentifikasi media palsu, tapi justru menandai media yang benar-benar asli,” ujarnya, dikutip dari Engadget, Jumat (2/1/2026).

Tantangan Baru di Tengah Dominasi AI

Mosseri menilai tekanan terhadap platform media sosial untuk memberi label konten AI akan semakin besar. Namun ia juga mengakui bahwa upaya tersebut tidak mudah pihaknya kakukan seiring kemampuan AI yang kian mahir meniru realitas.

“Semua platform besar akan cukup baik dalam mengidentifikasi konten AI, tetapi kemampuan itu akan terus menurun karena AI semakin mahir meniru dunia nyata,” jelasnya.

Sebagai solusi jangka panjang, Mosseri mengusulkan pendekatan yang dinilainya lebih realistis. Yakni dengan menandai media asli sejak awal proses pembuatan.

“Akan lebih praktis mengidentifikasi media asli daripada media palsu. Produsen kamera bisa menandatangani gambar secara kriptografis saat foto diambil, sehingga tercipta rantai kepemilikan yang jelas,” bebernya.

Pernyataan tersebut menjadi pengakuan tersirat bahwa mendeteksi konten AI secara akurat masih menjadi pekerjaan rumah besar, termasuk bagi Meta, induk perusahaan Instagram, yang telah menginvestasikan puluhan miliar dolar untuk pengembangan teknologi AI.

Bahkan, Meta disebut belum mampu mendeteksi konten AI atau hasil manipulasi secara konsisten di seluruh platformnya.

Kreator Diminta Tampil Lebih “Manusiawi”

Di sisi lain, pandangan Mosseri juga memunculkan tanda tanya di kalangan kreator dan fotografer. Selama ini, keluhan soal algoritma Instagram yang dinilai tidak adil dalam mendistribusikan karya ke pengikut masih kerap muncul.

Di tengah banjir konten AI, Mosseri justru menilai keaslian akan semakin terlihat dari ketidaksempurnaan.

“Gambar yang lebih mentah dan terlihat tidak menarik bisa menjadi cara kreator membuktikan bahwa mereka nyata, bukan AI,” ujarnya.

Ironisnya, ketika AI mampu menciptakan visual yang nyaris sempurna, para kreator manusia justru didorong untuk menampilkan sisi paling manusiawi mereka—apa adanya, tidak selalu rapi, dan jauh dari kesan ideal.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses