Budidaya Kepiting Soka Ubah Nasib Nelayan Tanjung Seloka, Dari Harga Murah Jadi Stabil
KOTABARU, inibalikpapan.com — Budidaya kepiting soka mulai mengubah nasib nelayan di Desa Tanjung Seloka, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Dari yang dulu bergantung pada tangkapan tak pasti dengan harga rendah, kini warga punya sumber penghasilan lebih stabil lewat sistem budidaya modern.
Sebelum program ini masuk, nelayan di pesisir Tanjung Seloka hanya mengandalkan hasil tangkap. Kepiting kecil langsung dijual dengan harga rendah, tanpa bisa meningkatkan nilai jual.
“Dulu kami hanya menjual kepiting apa adanya, ukurannya kecil dan harganya rendah. Sekarang, setelah dibudidayakan dan digemukkan, nilainya jauh lebih tinggi dan hasilnya lebih pasti,” kata Irhamsyah, Ketua Kelompok Nelayan Seloka Crabs.
Sekarang kondisinya berbeda. Kepiting tidak lagi dijual mentah, tapi dibudidayakan hingga ukuran dan kualitasnya meningkat.
Budidaya Kepiting Soka Jadi Solusi Ekonomi Baru

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT), warga mulai beralih ke budidaya kepiting soka dan penggemukan dengan metode Recirculating Aquaculture System (RAS).
Metode ini memungkinkan:
- Kepiting tumbuh lebih cepat
- Kualitas lebih terjaga
- Harga jual lebih tinggi
- Produksi lebih stabil
Tak hanya itu, cara ini juga mengurangi ketergantungan pada tangkapan laut yang semakin tidak pasti.
Hasilnya mulai terlihat. Jika sepanjang 2025 total produksi berkisar di angka 90 kilogram, kini produksinya kian stabil pada angka 30 kilogram per bulan.
Meski belum besar, pola ini memberi kepastian penghasilan—sesuatu yang dulu sulit didapat nelayan.
Perubahan ini tidak hanya soal jumlah kepiting. Program ini juga: membuka peluang kerja baru di budidaya, menguatkan kelompok nelayan, serta menarik warga lain untuk ikut usaha serupa
Ekonomi desa mulai bergerak, tidak lagi bergantung pada satu sumber saja.
Dari Terumbu Buatan hingga Budidaya Modern
Program ini bukan tiba-tiba berhasil. Sejak 2024, warga sudah lebih dulu terlibat dalam pembuatan bioreef block dari FABA untuk memperbaiki ekosistem laut.
Masuk 2025, program berkembang ke sektor ekonomi, menggabungkan perbaikan lingkungan dan penguatan usaha warga.
Budidaya dengan sistem RAS juga punya keunggulan lain. Kepiting tidak lagi diambil terus-menerus dari alam, sehingga populasi tetap terjaga dan kosistem pesisir tidak rusak
Ini jadi solusi jangka panjang bagi nelayan.
General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menyebut potensi pesisir Tanjung Seloka masih sangat besar jika dikelola dengan tepat.
Ke depan, program ini akan terus diperkuat melalui: pelatihan, pendampingan usaha, dan dukungan alat produksi.
Perubahan paling terasa bagi warga adalah kepastian. Dari yang dulu bergantung pada laut yang tak menentu, kini mereka mulai punya kendali atas penghasilan sendiri.
Tanjung Seloka perlahan menunjukkan satu hal sederhana:
ketika cara lama diubah, hasilnya bisa langsung mengubah hidup.***
BACA JUGA
