Deteksi Dini Hoaks, Kesbangpol Perkuat Ketahanan Ideologis Masyarakat
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Pemerintah Kota Balikpapan menegaskan pentingnya wawasan kebangsaan sebagai filter utama bagi masyarakat dalam menghadapi maraknya informasi yang simpang siur di era digital. Langkah ini dianggap krusial agar masyarakat tidak hanya cerdas dalam mengakses informasi, tetapi juga mampu menyaring konten yang menyesatkan, tanpa kehilangan jati diri sebagai warga negara Indonesia.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Balikpapan, Sutadi, mengatakan saat ini masyarakat hidup dalam lingkungan informasi yang sangat dinamis dan sering kali membingungkan. Di media sosial maupun platform digital lainnya, setiap orang bisa menyampaikan pendapat, tetapi tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Di era digital, semua orang bisa bicara, tapi tidak semua yang terdengar itu benar. Literasi digital saja tidak cukup. Kita harus membekali masyarakat dengan wawasan kebangsaan, agar mereka mampu memfilter informasi yang masuk dan tidak mudah terprovokasi,” ujarnya, Selasa (29/07/2025).
Menurut Sutadi, literasi kebangsaan tidak hanya sekadar pengetahuan tentang Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai dasar negara, tetapi juga sebagai fondasi berpikir kritis. Dengan bekal ini, masyarakat dapat menilai mana informasi yang relevan, mana yang berpotensi menimbulkan konflik, serta mana yang murni hoaks atau manipulasi opini.
Sutadi menekankan, penting adanya pelatihan deteksi dini di tingkat masyarakat, terutama dalam merespons potensi konflik sosial dan penyebaran berita bohong. Kesbangpol pun tidak hanya memfokuskan diri pada pengawasan politik, tetapi juga melakukan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ideologis warga.
“Langkah deteksi dini tidak bisa hanya mengandalkan firasat. Kami butuh data, observasi yang objektif, validasi informasi, dan pelaporan yang terstruktur. Semua itu harus berpijak pada ketenangan berpikir dan pemahaman nilai-nilai kebangsaan,” jelasnya.
Selain itu, Sutadi menekankan perlunya peran tokoh masyarakat, perangkat RT/RW, serta generasi muda dalam menjaga harmoni sosial. Ia menilai keberagaman bangsa Indonesia adalah kekuatan utama, sehingga masyarakat harus dibekali filter ideologis yang kuat agar isu SARA, ujaran kebencian, maupun propaganda negatif tidak mudah menyebar.
“Bangsa kita besar karena keberagamannya. Dengan pemahaman kebangsaan yang kokoh, masyarakat akan mampu menahan diri dari berita palsu dan provokasi. Hal ini sangat penting, apalagi menghadapi dinamika politik dan sosial yang cepat,” ujarnya.
Sutadi juga menekankan bahwa wawasan kebangsaan harus diterapkan secara aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar hafalan teori. Masyarakat perlu tahu cara mengidentifikasi berita bohong, memverifikasi sumber informasi, dan memahami konteks sebelum menyebarkannya.
“Kami merencanakan pelatihan lanjutan terkait deteksi hoaks dan pemahaman nilai-nilai Pancasila. Tujuannya agar masyarakat punya panduan praktis, bukan hanya teori. Dengan begitu, mereka bisa menjadi agen literasi yang mampu membimbing lingkungan sekitarnya,” tambahnya.
Kesbangpol Balikpapan optimis, upaya memperkuat literasi kebangsaan dan deteksi dini informasi dapat menumbuhkan masyarakat yang cerdas, tangguh, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Sutadi menegaskan, membekali masyarakat dengan wawasan kebangsaan adalah investasi penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah arus informasi yang semakin cepat dan kompleks.
“Dengan masyarakat yang bijak dan sadar kebangsaan, kita tidak hanya melindungi generasi muda dari pengaruh negatif media sosial, tetapi juga menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan dalam keberagaman,” pungkasnya.***
BACA JUGA
