Di Tengah Proyek Kilang Besar, PT KPB Datang ke Kedaton Kutai: Industri Tak Boleh Lepas dari Budaya

PT KPB menyerahkan ucapan selamat dalam peringatan Hari Kaseh Selamat Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di Kedaton Kutai Kartanegara.
PT KPB menyerahkan ucapan selamat dalam peringatan Hari Kaseh Selamat Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di Kedaton Kutai Kartanegara, Senin (9/2/2026). Foto: PT KPB

KUTAI KERTANEGARA, inibalikpapan.com – Pembangunan kilang modern di Balikpapan terus melaju. Namun di tengah proyek industri berskala besar ini, muncul satu pertanyaan penting: apakah pembangunan bisa berjalan tanpa menggerus nilai budaya lokal? PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) menegaskan, industri tidak boleh tumbuh dengan meninggalkan akar budaya masyarakat Kalimantan Timur.

Balikpapan sudah banyak masyarakat kenal sebagai kota industri energi. Namun jauh sebelum kilang, pipa, dan infrastruktur berdiri, wilayah ini tumbuh dari akar budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang telah hidup ratusan tahun.

Kesadaran akan sejarah inilah yang manajemen PT KPB tunjukkan saat menghadiri peringatan Hari Kaseh Selamat Sultan Kutai Kartanegara di Kedaton Kutai, Senin (9/2/2025).

Bagi PT KPB, kehadiran tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan bahwa pembangunan kilang harus berjalan selaras dengan nilai yang hidup dan masyarakat jaga.

Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara, Dhanur Dwijatmiko bergelar Pangeran Mangkupati, menilai Hari Kaseh Selamat Sultan sebagai ruang refleksi di tengah perubahan besar yang sedang Kalimantan Timur alami.

Menurutnya, ketika wilayah ini berkembang pesat sebagai pusat industri dan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), nilai adat dan budaya menjadi penopang agar masyarakat tidak kehilangan identitas di tengah arus pembangunan.

Di tengah pembangunan energi yang kian masif, sebagian warga di Balikpapan dan wilayah sekitarnya menyimpan harapan sekaligus kekhawatiran. Mereka melihat proyek besar membawa peluang kerja dan pergerakan ekonomi, namun juga berharap perubahan tidak menggerus nilai-nilai lokal yang selama ini menjadi pegangan hidup.

Karena itu, penghormatan terhadap adat dan budaya dipandang sebagai sinyal bahwa pembangunan tidak hanya mengejar target fisik, tetapi juga menjaga ruang sosial masyarakat agar tetap utuh.

KILANG TIDAK BISA BERDIRI SENDIRI

Vice President Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, menegaskan bahwa pembangunan kilang modern di Balikpapan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan investasi besar.

“Kilang tidak bisa berdiri sendiri tanpa menghormati adab dan budaya masyarakat setempat. Nilai lokal adalah fondasi agar industri, warga, dan lingkungan bisa berjalan harmonis,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberlanjutan industri energi di Balikpapan sangat ditentukan oleh penerimaan masyarakat sekitar, bukan semata capaian fisik proyek.

Rangkaian acara di Kedaton Kutai berlangsung khidmat. Tari Topeng Panah Buana dan Kanjar Ganjur membuka prosesi sebagai simbol penyambutan adat, dilanjutkan tausiah yang mengajak hadirin merenungkan nilai spiritual dan kebersamaan.

Di tengah masifnya pembangunan kilang dan infrastruktur energi di Kalimantan Timur, simbol-simbol adat ini menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tetap membutuhkan pijakan budaya agar tidak berjalan tanpa arah.

Momentum Hari Kaseh Selamat Sultan Kutai Kartanegara menegaskan satu pesan penting: pembangunan kilang modern di Balikpapan akan lebih berkelanjutan jika berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap budaya lokal yang telah membentuk masyarakat Kalimantan Timur selama ratusan tahun.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses