Dikelola Ibu-Ibu, Kelompok Tani Aspakusa Raih Ratusan Juta Per Bulan dengan Berdagang Sayur

Perwakilan Aspakusa Makmur sedang menunjukan sayur-mayur yang mereka jual. (Foto: Samsul/Inibalikpapan)

BOYOLALI, inibalikpapan.com – Di sebuah lahan pertanian di Boyolali, Jawa Tengah, puluhan ibu rumah tangga yang dulunya tak memiliki pekerjaan tetap kini sibuk merawat sayuran segar yang siap dikirim ke pasar modern dan hotel. Mereka adalah bagian dari Aspakusa Makmur, kelompok tani yang sejak 2005 tumbuh menjadi pusat pemberdayaan petani lokal.

Di bawah kelolaan Dwi Lestari Puji Astuti, Aspakusa mulai mandiri sepenuhnya pada 2011. Kini, kelompok ini menaungi lebih dari 21 orang, termasuk pekerja harian dan petugas jaga malam. Sebagian besar anggotanya adalah perempuan, bahkan ada yang hampir berusia 60 tahun.

“Kalau sistemnya digaji harian, lalu dihitung bulanan. Ada yang sudah sesuai UMR, ada juga yang belum, menyesuaikan kemampuan mereka. Prinsipnya lebih ke kemanusiaan, agar tetap ada kegiatan dan bisa produktif,” kata Dwi, Sabtu (7/9/2025).

Dwi Lestari Puji Astuti. (Foto: Samsul/Inibalikpapan)

Dari Swadaya hingga Ratusan Juta

Aspakusa mengelola produksi dan pemasaran secara swadaya, tanpa lagi bergantung pada perbankan. Omzet yang dihasilkan pun tak sedikit.

“Alhamdulillah per bulan bisa mencapai Rp100 juta hingga Rp300 juta. Untuk petani, ada yang bisa mendapat Rp30 sampai Rp40 juta per minggu, tergantung kelompoknya,” jelas Dwi.

Pembayaran hasil panen dilakukan secara transparan. Setiap petani menerima upah dalam amplop terpisah. Sementara koordinator hanya bertugas menyalurkan.

Aspakusa fokus pada sayuran segmented yang menyasar kalangan menengah ke atas, seperti asparagus, bayam merah, okra, hingga herbal segar seperti rosemary, coriander, dan dill. Komoditas ini lebih banyak mendapat lirikan pihak hotel, restoran, dan katering, bukan pasar tradisional.

“Kalau di pasar tradisional mungkin tidak laku, tapi di Horeka (hotel, restoran, katering) justru dicari,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas, Aspakusa memotong jalur distribusi agar produk sampai ke toko dalam keadaan segar. “Kalau ke supermarket, konsumen melihat kualitas dulu. Kami potong jalur distribusi, dari petani langsung ke toko, sehingga lebih fresh dibanding lewat tengkulak,” kata Dwi.

Bangkit dari Pandemi dan Persaingan

Tantangan besar pernah mereka hadapi saat pandemi Covid-19. Selama tiga bulan, pengiriman ke Surabaya terhenti. Petani pun kebingungan mencari pembeli.

“Selain itu, kompetitor dari Magelang, Bandung, juga banyak yang masuk ke pasar sini. Tapi kami tetap menjaga kualitas dan kontinuitas,” kenangnya.

Daripada bersaing secara ketat, Aspakusa memilih menjalin kemitraan dengan kelompok tani lain. “Kalau kami tidak punya, bisa ambil dari mereka, begitu juga sebaliknya. Jadi saling melengkapi,” tutup Dwi.

Belajar dari Taiwan, Petani Lokal Naik Kelas

Transformasi Aspakusa tidak terjadi dalam semalam. Pada 1994, kelompok ini bekerja sama dengan para ahli pertanian dari Taiwan untuk memperkenalkan teknik budidaya modern. Selama dua dekade, tujuh hingga delapan pakar datang bergantian, dibiayai oleh pemerintah Taiwan sebagai bagian dari program kerja sama.

“Dulu, petani percaya kalau makin banyak cabang yang dibiarkan, makin banyak hasilnya. Padahal, itu justru menurunkan kualitas,” kata Dwi.

Ia mencontohkan, satu tangkai tomat seharusnya hanya menghasilkan enam buah. Jika lebih, ukurannya kecil dan kualitas turun. Prinsip serupa diterapkan pada budidaya melon dan timun, dengan pemangkasan cabang sebagai kunci.

Selain itu, para ahli mengenalkan budidaya asparagus, tanaman yang bisa dipanen setiap hari hingga sepuluh tahun setelah masa tanam delapan bulan. Mereka juga membawa benih unggul langsung dari Taiwan.

“Benih terbaik memang banyak dari Taiwan. Sampai sekarang, kalau ada varietas baru, kami masih punya jalur langsung untuk mendapatkannya,” ujarnya.

Berkat transfer ilmu ini, Aspakusa kini mampu membudidayakan lebih dari 200 jenis sayuran, memperluas pilihan produk dan memperkuat posisi di pasar.

Berani Tentukan Harga Sendiri

Peningkatan kualitas membuat Aspakusa tak lagi bergantung pada pengepul. Jika dulu harga ditentukan sepihak, kini mereka berani menetapkan harga sendiri.

“Kalau barangnya bagus, pengepul yang justru mencari kami. Jadi, bukan lagi mereka yang atur harga, tapi kami yang menentukan,” tegas Dwi.

Kekuatan tawar ini makin meningkat setelah Aspakusa menjalin kerja sama dengan jaringan supermarket pada 2007. Pasar yang lebih luas mendorong mereka memperbesar produksi dan memperkuat kemandirian.

“Dengan bertambahnya pasar, produksi juga harus lebih besar. Dari situlah kami bisa menyeimbangkan posisi tawar kami dengan para pengepul,” pungkas Dwi.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses