Dilarang Mudik Pakai Mobil Dinas, KPK Ingatkan Kebiasaan Sepele Ini Bisa Jadi Awal Korupsi
JAKARTA, inibalikpapan.com – Penggunaan mobil dinas untuk mudik Lebaran kembali disorot. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan, kebiasaan yang sering dianggap wajar ini bisa menjadi pintu masuk korupsi dan merusak kepercayaan publik. Hampir setiap tahun praktik ini kembali muncul dan seolah menjadi hal yang dimaklumi.
Padahal, kendaraan dinas—baik milik negara maupun daerah—hanya diperuntukkan bagi operasional pekerjaan. Bukan untuk pulang kampung atau keperluan keluarga.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi bukan sekadar pelanggaran administratif. Menurutnya, kebiasaan kecil seperti ini bisa berkembang menjadi penyalahgunaan wewenang yang lebih besar.
“Penggunaan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi mencerminkan benturan kepentingan dan bisa berdampak pada kerugian negara,” ujarnya, dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.
Di sisi lain, praktik ini kerap memicu perbandingan di tengah masyarakat. Saat warga harus merogoh kocek sendiri untuk mudik—mulai dari biaya BBM, tiket, hingga tol—sebagian pejabat justru menggunakan fasilitas negara.
Kondisi ini yang membuat isu mobil dinas selalu sensitif, terutama di momen Lebaran, ketika mobilitas masyarakat meningkat tajam.
Sebagai langkah pencegahan, KPK telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pengendalian dan Pencegahan Gratifikasi Hari Raya. Namun, lembaga antirasuah itu menegaskan aturan tidak akan efektif tanpa pengawasan dari kepala daerah dan inspektorat.
Momentum mudik disebut sebagai periode rawan yang harus diawasi serius.
Penggunaan mobil dinas untuk kepentingan pribadi juga bukan tanpa dampak. Selain konsumsi BBM yang ditanggung negara, biaya perawatan kendaraan meningkat dan risiko penyalahgunaan fasilitas lain ikut terbuka.
Yang lebih penting, kepercayaan publik terhadap pemerintah bisa ikut terkikis.
KPK pun mengingatkan, praktik korupsi tidak selalu berawal dari kasus besar. Seringkali, semuanya dimulai dari kebiasaan kecil yang dibiarkan.***
BACA JUGA
