Dorong Penguatan Jejaring untuk Wujudkan Pendidikan Inklusif yang Aman dan Responsif

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Upaya mewujudkan pendidikan inklusif yang aman, berkualitas, dan berpihak pada semua peserta didik terus diperkuat di Kota Balikpapan. Hal ini terlihat dalam kegiatan Seminar Penguatan Jejaring dan Kolaborasi dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusif yang Bermutu untuk Semua Tenaga Kependidikan yang digelar Universitas Mulia Balikpapan, Kamis (27/11/2025).

Kepala UPTD PPA DP3AKB Balikpapan, Esti Santi mengatakan, seminar ini diikuti tenaga pendidik dari wilayah I Provinsi Kalimantan Timur, meliputi Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara.

 Kehadiran para pengajar lintas daerah ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman dan jejaring kolaborasi antarsektor dalam mewujudkan layanan pendidikan inklusif yang berperspektif perlindungan anak.

Dalam pemaparannya, Esti Santi menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya terkait penyediaan fasilitas bagi peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga menciptakan kultur sekolah yang aman, ramah, serta bebas dari kekerasan.

 “Pendidikan inklusif harus memastikan semua anak tanpa terkecualimendapatkan hak belajar dalam lingkungan yang saling menghargai, tidak diskriminatif, dan responsif terhadap kebutuhan mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa UPTD PPA selama ini menangani berbagai laporan kekerasan terhadap anak dan perempuan, termasuk yang terjadi di lingkungan pendidikan. Karena itu, kolaborasi antara lembaga pendidikan dan layanan perlindungan anak sangat penting. Guru, menurut Esti, adalah garda terdepan yang dapat mendeteksi dini tanda-tanda kekerasan, perundungan, hingga persoalan psikososial yang dialami siswa.

“Ketika sekolah memiliki pemahaman yang baik mengenai perlindungan anak, maka proses penanganan akan lebih cepat, tepat, dan tidak menimbulkan trauma tambahan bagi anak. Di sinilah pentingnya jejaring dan koordinasi antarsektor,” tegasnya.

Melalui seminar ini, tenaga pendidik mendapatkan penguatan mengenai mekanisme rujukan, langkah penanganan awal, serta pola komunikasi yang efektif dengan siswa maupun orang tua ketika terjadi indikasi kekerasan. Esti juga menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang terbuka, ramah anak, dan melibatkan komunitas dalam pemantauan.

Selain aspek perlindungan, seminar ini juga menyoroti bagaimana lembaga pendidikan dapat merancang pembelajaran yang adaptif, mendukung kebutuhan individual siswa, serta mendorong nilai empati di lingkungan sekolah. Esti berharap seluruh materi yang diberikan dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi batu loncatan untuk memperkuat jejaring layanan perlindungan anak dan meningkatkan kapasitas guru dalam menciptakan ruang belajar yang inklusif dan aman bagi semua. Semoga ini membawa manfaat luas bagi peserta didik di Balikpapan dan PPU,” pungkasnya.***


Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses