Enam Tahun Pilah Sampah, Kampung Bungas Balikpapan Dapat Perhatian Menteri LH
BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Upaya warga Kampung Bungas Kelurahan Gunung Sari Ilir (GSI) Balikpapan, dalam mengelola sampah rumah tangga selama enam tahun terakhir kembali mendapat perhatian. Program pilah sampah berbasis masyarakat yang dijalankan secara konsisten ini bahkan mendapat kunjungan mendadak dari seorang menteri sebagai bentuk evaluasi langsung di lapangan.
Berawal dari Kebutuhan Warga
Pengelolaan sampah di Kampung Bungas bermula dari kebutuhan sederhana warga akan pupuk untuk tanaman buah, bunga, dan sayuran. Dari situ, warga mulai mengolah sampah dapur menjadi kompos menggunakan komposter yang dikelola bersama.
Sampah organik diolah di lingkungan kampung, sementara sampah anorganik dipilah dan disalurkan ke bank sampah. Pola ini dijalankan secara gotong royong dengan melibatkan warga, kelurahan, hingga kecamatan.
“Dengan cara ini, masyarakat kami libatkan langsung. Bukan hanya warga, tapi juga kelurahan dan kecamatan,” ujar Suwanto, salah satu pengelola Kampung Bungas, Jumat (6/2/2026).
Pilah Sampah Dimulai dari Rumah
Di Kampung Bungas, setiap rumah yang ikut program diwajibkan memilah sampah sejak dari sumber. Setiap RT memantau sekitar 30 rumah dengan sistem pencatatan, agar sampah yang sudah dipilah tidak kembali tercampur saat dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS).
Pengelola kampung menekankan pentingnya data dan kedisiplinan warga dalam menjaga sistem tetap berjalan.
Edukasi Lingkungan Sejak Usia Dini
Pelibatan lintas sektor juga terlihat dari kegiatan edukasi lingkungan. Saat kunjungan menteri, guru-guru taman kanak-kanak (TK) tingkat kecamatan memberikan pelatihan sederhana kepada anak-anak tentang pengelolaan sampah.
Langkah ini dilakukan untuk menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak usia dini, sekaligus membangun kebiasaan pilah sampah dalam jangka panjang.
Tantangan: Baru 30 Persen Warga Terlibat
Meski sudah berjalan enam tahun, tingkat partisipasi warga Kampung Bungas baru mencapai sekitar 30 persen. Menurut pengelola, mengubah perilaku masyarakat perkotaan memang membutuhkan waktu dan kesabaran.
“Efeknya memang tidak instan. Tapi kalau lingkungan sudah terasa bersih dan nyaman, biasanya warga lain ikut tertarik,” ujarnya.
Perhatian Pusat Jadi Penyemangat
Kunjungan menteri yang berlangsung secara mendadak sempat mengejutkan warga. Namun, hal itu dimaknai sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap praktik pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Dalam evaluasi singkat, menteri mendorong agar program serupa dapat diperluas. Namun pengelola menilai, keberlanjutan program tetap membutuhkan pendampingan, edukasi, serta dukungan kebijakan agar perubahan perilaku warga bisa berjalan konsisten.
Contoh dari Lingkungan Kecil
Kampung Bungas kini menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah tidak selalu bergantung pada teknologi mahal. Kesabaran, kolaborasi, dan komitmen warga menjadi kunci utama dalam menjaga lingkungan tetap bersih dan nyaman.
BACA JUGA
