ESDM Catat 82 Gerakan Tanah di 17 Provinsi Selama Nataru 2026, Jalur BBM Tetap Lancar
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menutup Posko Nasional Sektor ESDM Nataru 2025/2026, Senin (5/1/2026).
Meskipun diwarnai sejumlah aktivitas vulkanik dan gempa bumi yang signifikan di awal tahun, pasokan energi di seluruh Indonesia dilaporkan tetap stabil dan tidak terganggu.
Keberhasilan ini menjadi bukti efektivitas langkah mitigasi cepat yang dilakukan tim geologi dalam mengawal fasilitas vital energi di tengah ancaman bencana alam.
Gunung Lewotobi Berstatus ‘Awas’, Pasokan Energi Tetap Lancar
Sepanjang periode siaga, sektor kegeologian mencatat aktivitas vulkanik yang dinamis. Salah satu poin krusial adalah kenaikan status Gunung Lewotobi Laki-laki di NTT menjadi Awas (Level IV) pada 1 Januari 2026.
Selain itu, tim memantau ketat Gunung Merapi dan Semeru yang berstatus Siaga (Level III). Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, Yudhiawan, menegaskan bahwa koordinasi cepat antara Badan Geologi dan pelaku usaha berhasil menjaga operasional fasilitas energi di sekitar zona bahaya.
“Semuanya termitigasi dengan baik dan berjalan lancar berkat kerja keras kita semua. Langkah mitigasi cepat adalah kunci terjaganya pasokan energi nasional,” tegas Yudhiawan di Gedung BPH Migas.
82 Kejadian Gerakan Tanah dan 10 Gempa Besar Terdeteksi
Data teknis Posko Nasional mencatat tantangan geologi yang cukup berat sepanjang 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026:
- Gerakan Tanah: Terjadi 82 kejadian yang tersebar di 17 provinsi.
- Gempa Bumi: Tercatat 10 gempa berkekuatan di atas Magnitudo 5.0, termasuk gempa merusak di Agam, Sumatera Barat pada 28 Desember 2025.
- Gempa Dirasakan: Sebanyak 46 kejadian di bawah M 5.0 dirasakan masyarakat.
Ketua Posko Nasional Sektor ESDM, Erika Retnowati, mensyukuri bahwa rentetan peristiwa alam tersebut tidak sampai memutus rantai distribusi BBM, Gas, maupun listrik.
Sinergi “Sapu Lidi” Lintas Lembaga
Kesuksesan pengamanan energi ini tidak lepas dari kolaborasi erat dengan BMKG, BNPB, TNI, dan Polri. Yudhiawan mengibaratkan sinergi ini seperti kekuatan sapu lidi yang sulit dipatahkan saat bersatu.
Informasi kebencanaan yang diterima dalam hitungan detik memungkinkan operator di lapangan melakukan langkah antisipatif sebelum kerusakan fatal terjadi. Hal ini memastikan tidak ada gangguan pada jalur distribusi energi di titik-titik rawan bencana.
Kementerian ESDM berkomitmen untuk terus meningkatkan standar mitigasi geologi guna menjamin kenyamanan masyarakat dan kelancaran dunia usaha di masa mendatang. / ESDM
BACA JUGA
