Film Kuyank Taruhkan Ongkos Produksi Miliaran di Pedalaman Kalimantan, Siap Tayang Akhir Januari 2026
JAKARTA, inibalikpapan.com — Tren film horor Indonesia terus bergerak ke arah produksi yang semakin serius dan berisiko tinggi. Tidak hanya mengandalkan cerita mistis, sejumlah rumah produksi mulai bertaruh pada riset budaya, lokasi ekstrem, dan kualitas visual kelas atas.
Pendekatan tersebut terlihat jelas dalam film Kuyank, prekuel dari Saranjana Universe, yang resmi diperkenalkan ke publik dalam gala premiere di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026). Film garapan DHF Entertainment ini menjadi sorotan karena skala produksinya yang dilakukan langsung di pedalaman Kalimantan.
Sutradara Johansyah Jumberan mengungkapkan bahwa tantangan utama film ini bukan hanya cerita, melainkan medan syuting yang ekstrem dan jauh dari akses kota. Risiko produksi pun tidak kecil, termasuk ancaman kehilangan peralatan bernilai miliaran rupiah.
“Mewujudkan film Kuyank ini enggak gampang, karena bawa ratusan orang ke pedalaman Kalimantan hampir lima jam. Kamera kita itu Alexa 35, kalau terjun satu (ke sungai), berapa miliar saya harus ganti,” kata Jo.
Keseriusan produksi juga terlihat dari pengerjaan efek visual yang memakan waktu panjang. Untuk memastikan visual Kuyang tampil realistis dan tidak asal-asalan, tim produksi menggandeng studio pemenang Piala Citra FFI.
“Kita mengerjakan CGI selama setahun. Tim CGI yang dipakai itu yang menang FFI dua kali berturut-turut,” ujarnya, dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.
Jo mengakui, film ini menjadi pembuktian setelah kritik yang diterima pada karya sebelumnya. Ia menegaskan tidak ingin kembali menghadirkan visual yang setengah matang.
“Produksi Kuyank ini bukan main-main. Saya tahu tidak akan memberikan kepuasan apalagi ke orang yang membenci kami (jika tidak maksimal),” ucap Jo.
Selain produksi teknis, Kuyank juga menonjolkan pendekatan riset budaya. Penulis skenario Asaf Antariksa menjelaskan bahwa film ini mengangkat mitos Kuyang versi masyarakat Banjar, yang berbeda dari representasi horor populer di Indonesia.
“Mitos yang kami ambil yakni Kuyang tidak membunuh, tapi masyarakat Banjar salah paham. Kalau Kuyank di Banjar biasanya terikat soal keinginan kecantikan, rasa sayang suami, dan awet muda,” imbuh Asaf.
Ia menilai pendekatan tersebut memberi ruang teror psikologis yang lebih dalam dan menjadi pembeda dari dominasi horor berlatar budaya Jawa.
“Seluruh film horor biasanya film horor Jawa, tapi kali ini beda. Saat Jo beri tantangan itu saya sangat senang. Pengalaman emosinya akan berbeda,” tutur Asaf.
Dari sisi pemain, aktor Rio Dewanto yang memerankan Badri turut merasakan langsung beratnya proses syuting di Kalimantan. Ia menyebut pengalaman tersebut membuka perspektif baru, baik secara profesional maupun personal.
“Pengalaman syuting di Banjar menyenangkan, kalau enggak ada proyek ini mungkin saya enggak pernah ke Kalimantan,” tutur Rio.
“Orang sana ramah-ramah. Yang saya bingung kenapa restoran di Kalimantan kok Wong Solo,” kata Rio, disambut tawa.
Ia bahkan sempat mencoba memancing di sela jadwal syuting, meski tanpa hasil.
“Saya coba mancing tapi enggak dapat-dapat ikannya,” imbuhnya.
Sebagai informasi, Kuyank mengambil latar tujuh tahun sebelum terbukanya gerbang kota gaib Saranjana. Film ini mengisahkan Rusmiati (Putri Intan Kasela) dan Badri (Rio Dewanto), pasangan suami istri yang tertekan tuntutan memiliki keturunan hingga mendorong Rusmiati mempelajari ilmu Kuyang.
Keputusan tersebut memicu teror bagi perempuan hamil di desa dan mengubah cinta menjadi kutukan. Film ini juga dibintangi Ochi Rosdiana, Jolene Marie, Barry Prima, dan Dayu Wijanto.
Film Kuyank dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 29 Januari 2026.
BACA JUGA
