Film ‘Para Perasuk’ Tampil di Sundance Festival 2026, Bawa Cerita Desa ke Panggung Dunia

Salah satu scene dari film Para Perasuk karya sutradara Wregas Bhanuteja. (Foto: IMDB)

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Film drama supernatural Indonesia Para Perasuk (Levitating) karya sutradara Wregas Bhanuteja telah resmi diputar di Sundance Film Festival 2026, Amerika Serikat. Film produksi Rekata Studio ini menjalani world premiere sekaligus berkompetisi dalam kategori World Cinema Dramatic Competition.

Pemutaran perdana Para Perasuk berlangsung pada Sabtu (24/1/2026) waktu setempat di Utah, menandai langkah terbaru film Indonesia di salah satu festival film independen paling bergengsi di dunia.

Keikutsertaan Para Perasuk di Sundance menempatkan film ini sebagai salah satu wakil Indonesia yang berhasil menembus seleksi ketat, menyisihkan ribuan pendaftar dari berbagai negara.

Kabar terpilihnya Para Perasuk ke Sundance sejatinya telah diketahui tim produksi sejak pertengahan tahun lalu. Namun, informasi tersebut baru dapat diumumkan setelah masa embargo dari pihak festival berakhir.

“Sebenarnya agak mengagetkan, tiba-tiba suatu hari dapet email bulan Juli, Sundance ngabarin pengen Para Perasuk world premiere dan compete di sini. Kita bingung, lah kan festivalnya masih Januari? Jarang banget orang ngasih tahu berbulan-bulan sebelumnya,” ungkap Produser Eksekutif Rekata Studio, Iman Usman, saat konferensi pers di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Sutradara Wregas Bhanuteja, yang sebelumnya dikenal lewat Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, mengenang momen menerima kabar dari pihak Sundance sebagai pengalaman yang tak terlupakan.

“Pagi-pagi saya lagi tidur, bangun-bangun kok ada email Sundance. Waduh, langsung saya telepon para produser saya. Jadi langsung nggak mandi, terlambat ke kantor gara-gara harus buru-buru bales emailnya,” kenang Wregas sambil tertawa.

Kerasukan sebagai Pesta, Bukan Teror

Berbeda dari film horor pada umumnya, Para Perasuk menempatkan kerasukan bukan sebagai teror, melainkan pesta dan ruang pelarian. Film ini berlatar di desa fiktif Desa Latas, tempat masyarakatnya memaknai kerasukan roh sebagai jeda dari beban realitas hidup.

Dalam semesta film ini terdapat 20 roh binatang fiktif, mulai dari roh bulus, kerbau, hingga lintah. Cerita berpusat pada Bayu (Angga Yunanda), pemuda yang terobsesi menjadi seorang Perasuk—medium penyalur roh—dan harus bersaing dengan kandidat lain seperti Ananto (Bryan Domani) dan Pawit (Chicco Kurniawan).

“Film ini adalah proses Bayu untuk kemudian mencoba memaafkan dirinya dan menerima masa lalunya, untuk akhirnya dia bisa menyalurkan kasih sayang sebagai seorang Perasuk,” jelas Wregas.

Debut Layar Lebar Anggun C. Sasmi

Penampilan Anggun C. Sasmi menjadi salah satu sorotan utama Para Perasuk. Film ini menandai debut akting layar lebar Anggun di perfilman Indonesia, dengan peran sebagai Guru Asri, seorang Perasuk senior yang karismatik.

Anggun mengaku sempat mengabaikan pesan langsung dari Wregas di media sosial karena tidak mengenalnya. Namun setelah melakukan riset dan bertemu langsung, ia akhirnya menerima tawaran tersebut.

“Setiap kali nonton filmnya Regas, aku butuh waktu untuk bisa mengerjakan sesuatu dengan normal. Ada sesuatu yang selalu menyayat hati. Akhirnya seneng banget, mungkin kita jodoh ya,” tutur Anggun.

Tak hanya berakting, Anggun juga menciptakan 20 mantra orisinal untuk film ini yang direkam secara intuitif dalam satu kali pengambilan.

Totalitas Aktor: Nyeker, Makan Tanah, hingga Metronom

Para pemain Para Perasuk dituntut tampil total. Angga Yunanda harus mempelajari alat musik tradisional slompret serta melatih gerak tubuh menyerupai binatang.

“Medan yang diterjang sama Bayu ini sangat bervariasi. Mulai dari tanah biasa, terus sampai ada batu, sampai aspal di tengah terik matahari,” ungkap Angga.

Sementara Maudy Ayunda, yang berperan sebagai Laksmi, tampil tanpa alas kaki sepanjang syuting dan mempelajari 10 jenis tarian roh binatang.

“Yang lumayan terbebani ternyata dengkul saya. Di akhir-akhir itu kerasa kayak cekluk cekluk gitu, ada bunyi-bunyinya,” kata Maudy.

Adapun Bryan Domani, yang memerankan Ananto, menghadapi tantangan menjaga tempo permainan alat musik tam-tam sembari berdialog panjang.

“Tantangan paling besar, kamu harus belajar metronom. Itu sampai kebawa mimpi aku,” ujarnya.

Dari Festival Dunia ke Penonton Indonesia

Para Perasuk merupakan proyek ko-produksi Indonesia, Singapura (Momo Film Co), dan Prancis (House on Fire). Film ini sebelumnya juga meraih CJ ENM Award di Asian Project Market, Busan International Film Festival.

Meski telah diputar di Sundance Film Festival 2026, para produser menegaskan bahwa film ini tetap ditujukan untuk penonton Indonesia.

“Harapan kami cuma satu, semoga film ini bisa diterima dengan hati yang terbuka oleh penonton Indonesia. Karena sejauh apapun film ini melalang buana, rumah kami tetap di sini,” tutup Produser Syera Tamihardja.

Film Para Perasuk dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia setelah menyelesaikan rangkaian pemutaran di festival internasional.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses