Film ‘Surat Untuk Masa Mudaku’ Angkat Luka Masa Kecil dan Proses Berdamai Diri Sendiri, Tayang di Netflix

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Film drama A Letter to My Youth atau Surat Untuk Masa Mudaku yang kini tayang di Netflix hadir sebagai kisah reflektif tentang luka masa lalu, pengasuhan, dan proses berdamai dengan diri sendiri. Film berdurasi 2 jam 15 menit ini disutradarai Sim F. dengan skenario karya Daud Sumolang, dan menempatkan relasi manusia sebagai pusat cerita.

Film ini dibintangi Millo Taslim, Fendy Chow, dan Agus Wibowo, serta mengambil latar utama di Panti Asuhan Pelita Kasih, sebuah ruang yang menjadi saksi pertemuan dua karakter dengan latar emosional yang sama-sama rapuh.

Mengutip IMDB, cerita berfokus pada Kefas, salah satu anak panti yang dikenal pemberontak dan sulit diatur. Kehidupannya berubah ketika ia bertemu Simon, pengasuh panti yang pendiam dan tertutup. Pertemuan pertama keduanya diwarnai ketegangan, perbedaan sikap, dan konflik yang nyaris tak terhindarkan.

Namun seiring waktu, hubungan yang awalnya dipenuhi penolakan perlahan berkembang menjadi ikatan emosional yang kuat. Dari pertengkaran kecil hingga percakapan sunyi, film ini menunjukkan bagaimana kedekatan dapat tumbuh dari rasa sakit yang serupa.

Kisah dari Sudut Pandang Masa Depan

Surat Untuk Masa Mudaku diceritakan dari sudut pandang Kefas sebagai seorang pria dewasa. Kepulangannya ke Panti Asuhan Pelita Kasih menjadi pintu masuk menuju rangkaian kilas balik tentang masa kecil yang penuh luka, kehilangan, dan pencarian makna hidup.

Pendekatan ini membuat film terasa personal dan reflektif, seolah penonton diajak membaca surat yang ditujukan pada diri sendiri di masa lalu—tentang penyesalan, harapan, dan proses memaafkan.

Drama yang Bertumpu pada Emosi, Bukan Sensasi

Alih-alih menghadirkan konflik besar yang eksplosif, film ini memilih membangun emosi secara perlahan. Ketegangan muncul dari dialog, gestur, dan keheningan, menjadikan hubungan Kefas dan Simon sebagai jantung cerita.

Dengan rating dewasa, film ini menyentuh tema-tema sensitif seperti trauma masa kecil, pengasuhan, dan relasi kuasa, namun disajikan dengan pendekatan yang tenang dan manusiawi.

Surat Untuk Masa Mudaku bukan sekadar film tentang kehidupan di panti asuhan, melainkan potret perjalanan seseorang untuk berdamai dengan masa lalunya. Melalui hubungan tak terduga antara anak dan pengasuh, film ini mengingatkan bahwa luka lama bisa sembuh, bukan dengan dilupakan, tetapi dengan dipahami.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses