Generasi Milenial Indonesia Paling Banyak Gunakan Pinjol, Kalahkan Gen Z
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Tren penggunaan pinjaman online (pinjol) di Indonesia menunjukkan fakta mengejutkan. Berdasarkan riset Profil Internet Indonesia 2025 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), generasi Milenial tercatat sebagai kelompok paling banyak memanfaatkan layanan pinjol, mengalahkan generasi Gen Z yang selama ini dikenal sebagai pengguna digital paling aktif.
APJII mencatat, 45,15 persen Milenial mengaku menggunakan pinjol, jauh lebih tinggi dibandingkan 41,44 persen Gen Z. Sementara itu, Generasi X berada di posisi ketiga dengan 11,75 persen, dan Baby Boomers hanya 1,65 persen.
Alasan Utama Gunakan Pinjol
Studi tersebut juga mengungkap alasan utama masyarakat memilih pinjol. Sebagian besar responden menyebut ingin membeli barang dengan cicilan tanpa kartu kredit (23,02 persen). Disusul kebutuhan mendesak seperti biaya darurat (21,77 persen), belanja kebutuhan sehari-hari (17,73 persen), dan tergiur promosi atau diskon yang ditawarkan (12,13 persen).
Faktor lain yang mendorong masyarakat menggunakan pinjol antara lain kemudahan pengajuan (9,33 persen), membayar tagihan (7,62 persen), keterbatasan akses ke pinjaman konvensional (3,42 persen), serta kebutuhan hiburan dan liburan (2,18 persen). Bahkan ada yang memanfaatkannya sebagai modal usaha (1,87 persen).
Potret Konsumsi dan Tantangan Keuangan
Temuan ini menegaskan bahwa Milenial, yang kini berada pada rentang usia produktif dan memiliki beban ekonomi tinggi, lebih sering mengandalkan pinjol dibandingkan Gen Z. Pola konsumsi berbasis cicilan serta kebutuhan finansial mendesak menjadi faktor dominan.
Di sisi lain, tingginya angka penggunaan pinjol juga menjadi alarm bagi regulator. Edukasi literasi keuangan dan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dibutuhkan agar masyarakat, khususnya Milenial dan Gen Z, terhindar dari jeratan bunga tinggi serta pinjol ilegal yang merugikan.
Dengan pertumbuhan pengguna internet yang semakin besar, pinjol diperkirakan tetap akan menjadi salah satu instrumen keuangan digital populer di Indonesia.
Namun, keseimbangan antara kebutuhan konsumsi dan manajemen risiko keuangan menjadi kunci agar generasi muda tidak terjebak dalam masalah utang berkepanjangan./suara.com
BACA JUGA
