Harga Minyak Dunia Sempat Tembus US$120, Kini Turun ke US$92 per Barel, Sinyal Meredanya Ketegangan Timur Tengah
BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Harga minyak dunia mengalami fluktuasi tajam dalam beberapa hari terakhir akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Setelah sempat melonjak hingga mendekati US$120 per barel, harga minyak kini turun signifikan pada perdagangan 10 Maret 2026.
Berdasarkan laporan media internasional seperti Reuters dan The Guardian, harga minyak jenis Brent Crude Oil sebelumnya sempat menyentuh sekitar US$119–119,5 per barel, dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Lonjakan harga ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel, yang menimbulkan ketakutan akan terganggunya distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.
Namun pada Selasa (10/3/2026), harga minyak berbalik turun cukup tajam. Brent Crude tercatat berada di kisaran US$92 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun ke sekitar US$88–90 per barel.
Penurunan ini dipicu sinyal kemungkinan meredanya konflik setelah pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut peluang deeskalasi di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran Selat Hormuz
Salah satu faktor utama yang memicu lonjakan harga sebelumnya adalah ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Jalur laut ini sangat vital karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari.
Setiap potensi gangguan di Selat Hormuz hampir selalu berdampak langsung pada pasar energi global, sehingga investor bereaksi cepat dengan menaikkan harga minyak.
Pasar Energi Masih Tidak Stabil
Meski harga minyak telah turun dari puncaknya, analis menilai pasar energi global masih berada dalam kondisi sangat sensitif. Perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam waktu dekat.
Selain faktor geopolitik, harga minyak juga dipengaruhi oleh kebijakan produksi negara-negara OPEC, tingkat permintaan energi global, serta kondisi ekonomi dunia.
Jika ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat, harga minyak berpotensi melonjak lagi. Sebaliknya, jika situasi stabil, harga minyak dunia diperkirakan dapat bertahan di kisaran US$85–95 per barel.
BACA JUGA
