Iran “Sandera” Jalur Minyak Dunia: Strategi Teheran Tutup Selat Hormuz untuk Tekan AS dan Israel
DUBAI, Inibalikpapan.com – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik nadir. Republik Islam Iran resmi mengaktifkan strategi pertahanan “asimetris” mereka dengan melumpuhkan jalur pengapalan minyak paling vital di dunia: Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Data terbaru dari PBB menunjukkan dampak yang mengerikan; lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz merosot tajam hingga 97% sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Hal ini praktis memutus pasokan seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Strategi ‘Sandera’ Ekonomi Global
Laporan Reuters menyebutkan bahwa Teheran telah lama merancang strategi ini untuk mengimbangi keunggulan militer lawan. Alih-alih melakukan konfrontasi langsung, Iran memilih menjadikan aset ekonomi terbesar kawasan sebagai alat pencegah (deterrent) paling ampuh.
“Iran menyadari mereka kalah dalam persenjataan fisik. Namun, jika mereka menyandera ekonomi global, Presiden Donald Trump kemungkinan besar akan menjadi yang pertama mundur (blink first),” ujar Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group.
Doktrin ‘Mosaik’ dan Kematian Pemimpin Tertinggi
Meskipun Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur di hari pertama konflik, mesin perang Iran tidak berhenti. Di bawah kendali Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Ali Larijani, Iran menerapkan Doktrin Mosaik.
Doktrin ini mengandalkan:
- Komando Desentralisasi: Perintah tetap berjalan meskipun kepemimpinan pusat diserang.
- Serangan Drone & Rudal Murah: Menggunakan gudang senjata drone dan rudal berbiaya rendah untuk mengancam pelayaran di wilayah yang sangat luas.
- Perang Asimetris: Menghindari pertempuran satu medan dan menyebarkan serangan ke aset-aset AS di seluruh kawasan.
AS Dinilai Kurang Persiapan
Kritik tajam datang terhadap strategi Washington. Ali Vaez menyebut AS terjebak dalam “angan-angan” dan gagal mengantisipasi serangan drone terhadap negara-negara Teluk atau kebutuhan evakuasi warga sipil.
Meskipun militer AS mampu melemahkan infrastruktur fisik Iran, para ahli menilai kemenangan total hanya bisa dicapai melalui invasi darat dengan jutaan tentara di medan yang sangat berat—sebuah komitmen yang diyakini tidak ingin diambil oleh Trump mengingat janji kampanyenya untuk menghindari “perang bodoh”.
Dampak Langsung ke Pasar Energi
Penutupan Selat Hormuz ini menjadi mimpi buruk bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Efek dominonya telah memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia yang dapat berdampak langsung pada biaya logistik dan harga kebutuhan pokok secara global.
BACA JUGA
