Jelang Idulfitri, Perajin Ketupat di Balikpapan Kebanjiran Pesanan

Ketupat
Perajin ketupat di Balikpapan mulai kebanjiran pesanan jelang idulfitri 1447 Hijriah. (Foto:Inibalikpapan.com/Samsul)

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, para perajin ketupat di Kota Balikpapan mulai merasakan peningkatan aktivitas produksi. Permintaan masyarakat terhadap anyaman daun kelapa muda (janur) untuk kebutuhan Lebaran terpantau stabil, bahkan cenderung ramai seperti tahun sebelumnya.

Salah satu perajin ketupat mengungkapkan, dalam sehari dirinya mampu memproduksi hingga 500 buah ketupat. Ketupat tersebut kemudian dijual dalam bentuk ikatan, di mana satu ikat berisi 10 buah dengan harga mulai dari Rp10.000.

“Alhamdulillah, tahun ini pembeli masih lumayan ramai. Tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, cenderung sama,” ujarnya saat ditemui di lokasi produksi, Rabu (18/3/2026).

Ia menjelaskan, bahan baku utama berupa daun janur diperoleh dari pemasok langganan. Ketersediaan bahan sejauh ini masih aman, sehingga proses produksi tidak mengalami kendala berarti.

Menariknya, profesi sebagai perajin ketupat ini sudah dijalani sejak usia sekolah dasar. Dengan pengalaman puluhan tahun, keterampilan menganyam ketupat menjadi keahlian yang terus dipertahankan hingga kini, terutama saat momentum Lebaran.

“Sudah dari kecil buat ketupat. Ini memang jadi pekerjaan rutin setiap tahun,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan perajin lainnya. Ia menilai minat masyarakat terhadap ketupat masih tinggi, seiring tradisi Lebaran yang identik dengan hidangan tersebut. Meskipun tidak mengalami lonjakan signifikan, tingkat penjualan tetap stabil.

“Masih ramai, tidak ada penurunan. Kalau dibandingkan tahun lalu, ya imbang saja,” ujarnya.

Ketupat yang dijual umumnya dipasarkan langsung kepada masyarakat sekitar maupun pedagang makanan yang membutuhkan dalam jumlah besar. Sistem penjualan yang fleksibel, baik per ikat maupun dalam jumlah banyak, turut memudahkan pembeli.

Di tengah modernisasi, keberadaan perajin ketupat tradisional ini tetap menjadi bagian penting dalam menjaga budaya lokal. Anyaman janur bukan sekadar produk, melainkan simbol kebersamaan dan tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat.

Dengan produksi yang konsisten dan minat pasar yang stabil, para perajin berharap usaha mereka tetap bertahan dan terus diminati, terutama setiap kali Lebaran tiba.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses