Kaltim Kejar Target Cetak Sawah 9.500 Hektare di Berau hingga Paser 2026
SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tengah memacu proyek cetak sawah besar-besaran demi melepaskan ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah. Langkah strategis ini menjadi tumpuan utama Kaltim untuk mendukung target swasembada pangan nasional tahun 2026, sekaligus mengamankan stok pangan bagi Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Fahmi Himawan, mengungkapkan bahwa proses perluasan lahan pertanian ini tidaklah mudah. Dari usulan awal 20.000 hektare, tim harus melakukan kurasi ketat sesuai Petunjuk Teknis (Juknis) yang berlaku.
Verifikasi Ketat: Berau Jadi Primadona, Kukar Terkendala Banjir
Proses verifikasi lapangan menunjukkan hasil yang bervariasi di setiap kabupaten/kota. Berikut adalah pemetaan lahan yang masuk tahap Survey Investigasi dan Desain (SID):
- Kabupaten Berau: Menjadi wilayah paling potensial dengan 2.000 hektare lahan yang dinyatakan layak 100 persen.
- Kutai Barat: Dari usulan 11.500 hektare, hanya 800 hektare yang lolos karena sebagian besar wilayah lainnya masuk dalam kawasan perikanan.
- Kutai Kartanegara: Hanya mencatatkan 300 hektare yang layak dari usulan 6.500 hektare, akibat kendala kerawanan banjir di lokasi usulan.
“Secara keseluruhan, setelah verifikasi bersama, total lahan yang sedang diproses menuju tahap CPCL (Calon Petani Calon Lokasi) mencapai sekitar 9.500 hektare yang tersebar di Berau, Paser, Kutai Timur, dan sebagian Kukar,” ujar Fahmi dalam Dialog Publika TVRI Kaltim, Rabu (28/1/2026).
Tantangan Tumpang Tindih Izin dan Solusi Irigasi
Fahmi mengakui hambatan terbesar cetak sawah di Benua Etam adalah masalah legalitas lahan. Banyak potensi lahan yang terbentur tumpang tindih izin dengan Hak Guna Usaha (HGU), kawasan pertambangan, hingga kawasan hutan.
Menyiasati hal tersebut, pada tahun 2026 pemerintah mulai beralih menggunakan pendekatan manfaat jaringan irigasi eksisting. Fokus pengembangan diarahkan pada 16 titik jaringan irigasi yang sudah tersedia di Berau, Paser, Kukar, dan Kutim.
“Kami fokus pada wilayah yang memiliki jaringan irigasi karena peluang keberhasilannya lebih besar. Namun, lahan dan irigasi saja tidak cukup, petaninya juga harus siap,” tegasnya.
Transformasi: Dari Lumbung Energi ke Lumbung Pangan
Upaya ini merupakan bentuk nyata transformasi ekonomi Kaltim. Jika selama ini Kaltim hanya dikenal sebagai penyokong energi nasional melalui batu bara dan migas, ke depan Kaltim ditargetkan mampu mandiri secara pangan.
Dinas PTPH Kaltim kini tengah mengusulkan dukungan APBN 2026 untuk perbaikan masif jaringan irigasi. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten diharapkan menjadi kunci suksesnya kedaulatan pangan di daerah penyangga IKN ini. / Pemprov
BACA JUGA
