Kasus Campak di Balikpapan Meningkat, DKK Gencarkan Imunisasi dan Imbauan PHBS

Kepala DKK Balikpapan Alwiati

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan mencatat adanya peningkatan kasus campak di tengah momentum libur Lebaran. Meski jumlahnya cukup banyak, daerah ini belum dikategorikan sebagai wilayah endemis oleh Kementerian Kesehatan, sehingga belum diperlukan langkah outbreak response immunization (ORI).

Kepala Dinkes Kota Balikpapan, Dra. Alwiati, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya lebih fokus pada program imunisasi kejar guna melindungi anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi.

“Campak adalah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui imunisasi. Kalau sudah imunisasi, biasanya gejalanya tidak terlalu parah. Yang menjadi perhatian justru anak-anak yang belum diimunisasi,” ujar Alwiati, Selasa (24/3/2026).

Ia menegaskan, imunisasi kejar dilakukan secara aktif untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan vaksin campak. Langkah ini dinilai penting guna mencegah penyebaran yang lebih luas, terutama di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat saat Lebaran.

Dalam satu kegiatan terbaru, tercatat sekitar 200 orang hadir, terdiri dari anak-anak dan orang dewasa. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya terkait pencegahan penularan campak.

Jaga Kebersihan Tangan

Dinkes juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Salah satu poin penting adalah menjaga kebersihan tangan sebelum menyentuh anak kecil.

“Orang dewasa harus paham, jangan langsung menyentuh atau mencium bayi tanpa cuci tangan. Bisa saja kita membawa virus tanpa disadari,” jelasnya.

Imbauan ini menjadi semakin relevan saat momen silaturahmi Lebaran, di mana interaksi fisik seperti menggendong atau mencium bayi kerap terjadi. DKK bahkan telah mengeluarkan surat edaran untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap campak selama periode ini.

Untuk penanganan pasien, DKK memastikan bahwa pengobatan diberikan secara gratis. Pasien yang terpapar dianjurkan menjalani isolasi mandiri selama sekitar dua minggu guna mencegah penularan ke orang lain.

“Perawatan langsung kita berikan, dan pasien harus istirahat mandiri agar tidak menularkan. Ini penting untuk memutus rantai penyebaran,” kata Alwiati.

Di tengah situasi ini, DKK mengajak masyarakat untuk tidak ragu melakukan imunisasi dan tetap disiplin menjaga kebersihan. Upaya sederhana seperti mencuci tangan, menghindari kontak berlebihan dengan bayi, serta melengkapi imunisasi, dinilai menjadi kunci dalam menjaga kesehatan bersama.

Dengan langkah kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan penyebaran campak di Balikpapan dapat segera terkendali tanpa harus memasuki fase darurat.(***/Adv Diskominfo Balikpapan).

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses