Kasus Siswa SD di NTT Dorong Penguatan Data dan Perlindungan Sosial
BEKASI, Inibalikpapan.com – Seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia setelah diduga mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini mengguncang publik setelah terungkap korban berasal dari keluarga miskin yang kesulitan membeli buku dan alat tulis.
Hidup di Tengah Keterbatasan
Korban diketahui tinggal bersama neneknya. Ibunya adalah orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anak. Dalam keseharian, keluarga ini hidup pas-pasan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sekolah yang paling dasar.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata masih rapuhnya akses pendidikan bagi anak-anak di daerah tertinggal.
Menteri Sosial: Ini Alarm Keras bagi Negara
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan, kasus ini menjadi peringatan serius bahwa masih ada keluarga prasejahtera yang luput dari jangkauan perlindungan negara.
“Dengan data yang akurat, semuanya bisa diberi perlindungan dan dukungan yang tepat. Mudah-mudahan kejadian seperti ini bisa kita cegah ke depan,” ujar Gus Ipul di Bekasi, Rabu (4/2/2026).
Masalah Utamanya: Data dan Jangkauan
Menurut Gus Ipul, penguatan data sosial menjadi kunci agar bantuan benar-benar sampai ke keluarga paling rentan. Pemerintah kini mendorong konsolidasi melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) agar kasus serupa tidak terulang.
Program Sekolah Rakyat juga disiapkan untuk menjangkau anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang selama ini belum tersentuh bantuan pendidikan.
Kakak Korban Diupayakan Tetap Sekolah
Saat ini, tim Kementerian Sosial masih melakukan asesmen di lapangan. Pemerintah membuka peluang agar kakak korban dapat kembali mengenyam pendidikan, baik di sekolah terdekat maupun melalui Sekolah Rakyat.
“Petugas kami sedang mendampingi keluarga. Ada kakaknya yang akan kita upayakan tetap bersekolah,” kata Gus Ipul.
Bantuan untuk Keluarga
Melalui Sentra Efata Kupang, Kemensos telah menyalurkan bantuan total Rp9 juta, terdiri dari:
- Santunan Rp5 juta
- Bantuan sembako dan nutrisi Rp1,5 juta
- Bantuan sandang Rp2,5 juta
Selain itu, dua kakak korban juga akan mendapatkan dukungan belajar keterampilan dan pendampingan pendidikan.
Tragedi yang Tak Boleh Terulang
Sebelum meninggal, korban sempat meninggalkan sepucuk surat perpisahan untuk ibunya. Kisah ini menjadi potret pahit bahwa kemiskinan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut harapan dan masa depan anak-anak Indonesia.
Peristiwa di Ngada ini diharapkan menjadi pembelajaran bersama agar tidak ada lagi anak yang kehilangan masa depannya hanya karena tak mampu membeli buku dan pena. / kemensos
BACA JUGA
