Kemiskinan di Kaltim Naik, Capai 202,04 Ribu Orang per September 2025
SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Kemiskinan di Kalimantan Timur justru meningkat di wilayah perkotaan. Data terbaru BPS mencatat jumlah warga miskin kota bertambah ribuan orang dalam setahun terakhir. Kenaikan harga beras dan kebutuhan harian membuat banyak keluarga di kota merasa hidup semakin berat, meski pembangunan terus berjalan.
Kota Jadi Penyumbang Terbesar
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin di Kalimantan Timur pada September 2025 mencapai 5,19 persen atau sekitar 202,04 ribu orang. Angka ini meningkat dibandingkan Maret 2025.
Yang mengejutkan, kenaikan justru terjadi di wilayah perkotaan. Dalam periode Maret–September 2025, jumlah penduduk miskin kota bertambah 4,87 ribu orang, sementara di perdesaan justru menurun 2,54 ribu orang.
Warga Kota Tertekan Biaya Hidup
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menjelaskan persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 4,16 persen menjadi 4,31 persen. Sebaliknya, kemiskinan perdesaan turun dari 7,48 persen menjadi 7,24 persen.
Bagi warga kota seperti Samarinda dan Balikpapan, kenaikan ini terasa nyata. Harga beras, lauk pauk, hingga kebutuhan harian terus naik, sementara pendapatan tidak selalu ikut meningkat.
Beras dan Rokok Jadi Beban Terbesar Pengeluaran
BPS mencatat Garis Kemiskinan Kaltim pada September 2025 sebesar Rp897.759 per kapita per bulan. Dari jumlah itu, 70 persen lebih dihabiskan hanya untuk kebutuhan makanan.
Beras masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan, dengan kontribusi 17,17 persen di perkotaan dan 21,28 persen di perdesaan. Menyusul rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, dan mi instan.
Artinya, sebagian besar penghasilan keluarga miskin habis hanya untuk bertahan hidup dari hari ke hari.
Satu Keluarga Miskin Butuh Rp4,6 Juta per Bulan
Rata-rata rumah tangga miskin di Kaltim memiliki 5,14 anggota keluarga. Dengan kondisi itu, satu keluarga miskin membutuhkan sekitar Rp4,61 juta per bulan hanya untuk berada tepat di atas garis kemiskinan.
Meski begitu, BPS mencatat ada sedikit perbaikan kualitas kemiskinan. Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan sama-sama menurun, menandakan sebagian warga miskin tidak semakin jauh tertinggal.
Tantangan Kota di Tengah Pembangunan
Kenaikan kemiskinan di perkotaan menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah. Di tengah masifnya pembangunan dan pergerakan ekonomi, terutama di wilayah penyangga IKN, tekanan biaya hidup justru paling terasa di kota.
Bagi warga, tantangannya sederhana namun berat: bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga saat harga terus naik, sementara penghasilan berjalan di tempat. / Pemprov
BACA JUGA
