Ketahanan Energi Indonesia Dipertaruhkan, Ini Strategi Besar PHE di 2026
MALANG, inibalikpapan.com – Ketahanan energi Indonesia sedang diuji di tengah harga minyak yang tak menentu. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menyiapkan strategi besar untuk 2026. Mulai dari peningkatan produksi hingga energi rendah karbon—yang akan berdampak langsung pada stabilitas pasokan dan harga energi nasional.
Saat ini, PHE mengelola sekitar 27 persen wilayah kerja migas nasional, dengan kontribusi besar terhadap produksi: 65 persen lifting minyak nasional dan 35 persen lifting gas nasional. Artinya, stabil atau tidaknya energi Indonesia sangat bergantung pada kinerja sektor ini.
Sepanjang 2025, PHE mencatat produksi mencapai 1 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD). Rinciannya meliputi 557 ribu barel minyak per hari dan 2,8 miliar kaki kubik gas per hari.
Angka ini bukan sekadar capaian teknis. Ini jadi “penyangga” utama agar pasokan energi tetap stabil, terutama saat dunia sedang tidak pasti.
Strategi 2026: Dari Sumur Lama sampai Cari Cadangan Baru
Masuk 2026, PHE tidak hanya bertahan, tapi mulai agresif memperkuat fondasi energi.
Beberapa langkah yang disiapkan antara lain pengembangan lapangan migas baru serta penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi dari sumur lama.
Selain itu, PHE juga melakukan eksplorasi wilayah potensial baru guna menemukan sumber daya tambahan. Di sisi lain, penjajakan merger dan akuisisi turut dilakukan untuk memperkuat portofolio bisnis hulu migas.
Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PHE, Edi Karyanto, menegaskan bahwa strategi ini bukan untuk jangka pendek.
“Ketahanan energi harus dijaga dari sekarang sampai masa depan. Produksi hari ini penting, tapi keberlanjutan jauh lebih penting,” ujarnya dalam media engagement, Kamis (9/4/2026).
Mulai Geser ke Energi Rendah Karbon
Tidak hanya migas, PHE juga mulai masuk ke energi rendah karbon. Langkah ini penting karena dunia mulai beralih ke energi yang lebih bersih.
Beberapa upaya yang dilakukan, yakni pengurangan emisi operasional, pengembangan teknologi CCS dan CCUS, serta efisiensi energi.
Sepanjang 2025, PHE mencatat penurunan emisi hingga 1,6 juta ton CO2e.
Dampaknya bisa langsung terasa, mulai dari pasokan energi yang lebih stabil hingga risiko lonjakan harga yang dapat ditekan. Selain itu, ketergantungan terhadap impor energi juga semakin berkurang.
Dalam jangka panjang, ini juga membuka peluang ekonomi baru, terutama di daerah penghasil migas.
Ke depan, tantangan energi tidak hanya soal ketersediaan, tapi juga kemampuan beradaptasi. PHE mulai mengarah ke sana dengan memperkuat produksi dan mengurangi emisi. Di saat yang sama, perusahaan juga menjaga tata kelola serta transparansi.
Langkah ini jadi bagian dari upaya menjaga energi Indonesia tetap tangguh—bukan hanya hari ini, tapi juga untuk generasi berikutnya.***
BACA JUGA
