Lahan Sawah Balikpapan Hanya 40 Hektare, Pemkot Upayakan Penguatan Sektor Pertanian

Kepala DKP3 Kota Balikpapan Sri Wahyuningsih

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) terus berupaya memperkuat sektor pertanian di tengah keterbatasan lahan produksi yang dimiliki kota ini. 

Saat ini, luas lahan sawah yang siap ditanami di Balikpapan hanya sekitar 40 hektare dari total kawasan pertanian yang tersedia.

Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan keberadaan petani di Kota Balikpapan tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Balikpapan Timur, Balikpapan Utara, Balikpapan Barat, Balikpapan Selatan hingga Balikpapan Tengah. Namun, keterbatasan lahan pertanian membuat produksi pangan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Petani di Balikpapan tersebar di beberapa wilayah. Tapi lahan sawah kita memang terbatas,” ujar Sri Wahjuningsih saat ditemui di Balai Kota Balikpapan, Sabtu (7/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa total lahan yang masuk dalam Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) di Balikpapan mencapai sekitar 98 hektare. Namun dari jumlah tersebut, baru sekitar 40 hektare yang sudah siap ditanami karena telah memiliki pematang sawah dan infrastruktur pendukung lainnya.

Perlu Penataan Lahan

Sementara itu, sekitar 58 hektare lainnya masih berupa lahan dengan vegetasi lebat sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai lahan pertanian. Kondisi tersebut membuat pemerintah kota perlu melakukan penataan lahan secara bertahap agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi pangan.

“Yang sudah siap ditanami sekitar 40 hektare. Sisanya sekitar 58 hektare masih berupa vegetasi berat, sehingga perlu dilakukan penataan secara bertahap,” jelasnya.

Untuk mengoptimalkan potensi lahan yang ada, Pemkot Balikpapan berencana melakukan rehabilitasi lahan sawah. Langkah ini dinilai sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi pertanian di tengah keterbatasan lahan.

Yuyun biasa Sri Wahyuningsih disapa menjelaskan, rehabilitasi berbeda dengan program cetak sawah baru. Rehabilitasi dilakukan pada lahan yang sebelumnya telah berfungsi sebagai sawah namun membutuhkan perbaikan agar kembali produktif.

“Kalau cetak sawah itu dari lahan yang sebelumnya bukan sawah menjadi sawah. Sementara yang kita rencanakan lebih ke rehabilitasi lahan yang sudah ada,” katanya.

Keterbatasan lahan pertanian di Balikpapan juga berdampak pada tingginya ketergantungan kota ini terhadap pasokan pangan dari daerah lain. Menurut Yuyun sekitar 90 persen kebutuhan pangan masyarakat Balikpapan masih dipasok dari luar daerah.

Beras Bergantung Pasokan Luar

Bahkan untuk komoditas beras, Balikpapan hampir sepenuhnya bergantung pada pasokan dari wilayah lain di Kalimantan maupun dari luar provinsi.

“Kalau beras, ketergantungan kita bisa dibilang hampir 100 persen dari daerah lain,” ujarnya.

Produksi padi dari lahan sawah yang ada di Balikpapan saat ini umumnya hanya mampu mencukupi kebutuhan para petani sendiri. Sebagian hasil panen juga dijual kepada Perum Bulog untuk memperkuat cadangan pangan pemerintah.

Yuyun menambahkan, Bulog saat ini juga memberikan jaminan harga bagi gabah petani, yakni sekitar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan tersebut dinilai cukup membantu petani dalam menjaga stabilitas harga hasil panen.

“Petani biasanya senang kalau gabahnya dibeli Bulog karena ada kepastian harga,” katanya.

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Pemerintah Kota Balikpapan tetap berupaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kapasitas petani, pendampingan kelompok tani, serta optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian yang masih tersedia di wilayah kota.(***/Adv Diskominfo Balikpapan).

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses