Lewat Film Dokumenter ‘Menolak Punah’, Dandhy Laksono Soroti Dampak Industri Fesyen Bagi Kesehatan
JAKARTA, inibalikpapan.com — Sutradara Dandhy Laksono kembali mengangkat isu lingkungan melalui film dokumenter terbarunya berjudul Menolak Punah yang mulai tayang di Balai Budaya Jakarta pada 4–9 April 2026.
Film ini menyoroti dampak penggunaan bahan sintetis seperti poliester dalam industri fashion yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang akibat paparan mikroplastik.
Dalam diskusi usai pemutaran film, Dandhy mengingatkan bahwa paparan mikroplastik dari pakaian dapat memicu berbagai penyakaasjjjjit, mulai dari gangguan pernapasan hingga penyakit degeneratif seperti kanker.
“Jika dikaitkan dengan isu kesehatan publik dan paparan mikroplastik yang besar, sistem seperti BPJS tidak akan sanggup menghadapi potensi ledakan penyakit di masa depan,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026), dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.
Selain dampak kesehatan, film ini juga menyoroti persoalan lingkungan dari limbah tekstil berbahan plastik yang sulit terurai. Berbeda dengan serat alami seperti kapas yang dapat terdegradasi, poliester cenderung meninggalkan residu mikroplastik dalam jangka panjang.
Ironisnya, di tengah potensi sumber daya alam yang melimpah, Indonesia masih bergantung pada impor kapas sebagai bahan baku tekstil. Padahal, tanaman kapas dinilai masih memungkinkan untuk dikembangkan di sejumlah wilayah, khususnya di kawasan timur Indonesia.
Melalui Menolak Punah, Dandhy tidak hanya mengangkat persoalan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat, seperti lebih selektif dalam memilih bahan pakaian serta mengurangi konsumsi produk fashion berbahan sintetis.
Film ini menjadi kelanjutan dari konsistensi Dandhy dalam mengangkat isu lingkungan setelah sebelumnya merilis dokumenter Pulau Plastik pada 2021.***
BACA JUGA
